Train To Busan (2016)

sohee-gong-yoo-jung-yoo-mi-choi-woo-sik_1466636416_af_org

More information, please visit their web here. Or their Korean official web here, if you are able to read Hangul.

8.7/10. Train to Busan told us about a fund manager Seok Woo (Gong Yoo) and his daughter Su An (Kim Soo Anh), who take a KTX bullet train ride to Busan in order to meet Su An’s mother, or Seok Woo’s ex-wife, and celebrating Su An’s birthday there. Their ride turns to life-survival ride since they were trapped on the zombie-filled bullet train, alongside expecting couple Sung-kyung (Jung Yu-mi) and Sang Hwa (Ma Dong-seok) and teenage baseball lover Jin-hee (Ahn So-hee) and Yong-suk (Kim Eui-sung).

I usually don’t watch Korean movie, TV series, or even porn! Haha. I don’t know, I see their movies or TV series was just fully depending on their actors’ pretty faces, and their actings is just blah. I just watched their thriller and horror movies since it promises me with gorier scenes, compared to their Western comrades that very much depends on CGIs and heavy makeups. Since this movie was categorized as Thriller, or even Horror, and the reviews were quite promising, then I just decided to watch this movie.

And the reviews were not totally wrong. I mean, this movie is well-paced, if it’s not said to be fast-paced, thrilling and their actings were believable. Taken theme of surviving in Zombie Apocalypse, the movie cleverly took us into eerie plot, gave us thrills all over the movie, and suddenly hit us with emotional stab at the ending. The movie also composed beautiful and unique upside down relationships between father and daughter, husband and wife, and teenage lover, during their survival fightings with zombie hordes. Unfortunately, I feel that this movie owed us explanations on how the zombie apocalypse begin, and should be given more suitable way on how a pain-in-the-ass character is finally killed. I think they can used the TV broadcast (that were on the train) to explain how the tragedy begins, and how massive the effects are, to give us more believable stories. However, if you were into Zombie movies or just thriller movies, you should probably consider to watch this movie.

Advertisements

Sore Ini Aku Bertemu Seorang Nenek Tua

Sore ini aku bertemu seorang nenek tua di persimpangan jalan
Langkahku sudah terlalu berat untuk menghindarinya
Tubuhku lusuh penuh debu, hasil berjibaku dengan kejamnya dunia
Dan dia duduk di sebelahku, menawarkan sepotong roti padahal aku melihat desir kelaparan di matanya

Sore ini aku bertemu seorang nenek tua di persimpangan jalan
Sudah terlalu tua dia untuk melakukan macam-macam
Sudah terlalu kenyang dia dengan rasa kehidupan
Dan dia bercerita tentang sekelumit kelompok manusia nan rumit

Dia bercerita bagaimana waktu berjalan dengan roda besi yang menghujam tanah
Bagaimana jalanan telah dilalui dari orang terhormat seperti pejabat negara
Sampai kaki-kaki kecil yang naik turun bis kota sambil menjual suara.
Jalanan itu telah jadi saksi sejarah, katanya.

Dia bilang dia menyaksikan setiap tragedi yang mengiringi negeri ini
Setiap tragedi terus berulang tanpa henti, terus berulang dan terus berulang
Rezim berganti tapi tragedi berulang seperti putaran rol film hitam putih
“Tapi negeri ini belum berubah, anakku,” katanya. “Rakyat masih kelaparan.”

Sementara di belakangku kudengar deru waktu yang kian meninggalkanku
Senja semakin memerah dan kuyakin setiap waktu malam bisa menelanku
Namun nenek tua itu masih terus bercerita tanpa henti
Menjebakku dalam dosa penyia-nyiaan waktu

Dan pada suatu titik aku bertanya padanya
Wahai nenek,

Mengapa masih terpaku disini sementara armada burung nazar bersiap menerjangmu?
Mengapa masih diam disini sementara terompet sangkakala terus bernyanyi?
Tidakkah kau dengar denting dawai harpa sang Malaikat Kematian di belakangmu?
Ataukah semua hanya perasaanku saja?

Dan dia diam sambil tersenyum padaku. Dia berkata,
“Anakku, aku takkan menghindari terjangan armada nazar dan gagak
Aku masih mendengar sangkakala sang waktu dan dawai Izrail yang merdu
Tapi kematian mengejarku,
Tak peduli kemanapun aku lari dia akan mendapatkanku.”

Dia terbatuk, tapi dia lanjutkan kalimatnya,
“Anakku, aku sudah melihat begitu banyak kematian.
Tak ada yang bisa menghindar darinya, dan dia merenggut setiap nyawa.
Aku melihat kematian menjemput para pendosa dengan kukunya yang hitam.
Aku melihat kematian menyapu jiwa suci sang beriman dengan gemulai.”

Dan aku menoleh ke belakangku.
Armada nazar dan gagak menutup langit dengan bentang sayap hitamnya bak asap tebal
Koar suara mereka seperti serenada orkestra di tengah melodi dawai Izrail
Di kejauhan setiap nyawa mulai beterbangan seperti anai-anai tertiup badai
Cahaya jiwa mereka beberapa bersinar, beberapa meredup seperti kena jelaga

Aku memejamkan mataku dan merasakan jari keriput sang nenek menyentuhku
Aku berkata, “Nenek yang baik, sungguh apa yang kau katakan adalah benar,
Sungguh tak ada satupun nyawa yang bisa menghindar dari sang kematian.
Dan semua koar nazar, melodi Izrail dan sangkakala waktu adalah orkestra ciptaanku.”

“Sungguh aku kemari untuk menjemputmu yang baik hati.
Aku kemari untuk merengkuh jiwamu yang menyinari langit dan bumi.
Aku datang untuk menjemput jiwa yang telah menolong banyak mahasiswa penuntut keadilan lapar saat setiap tragedi berulang meski perutnya sendiripun kosong tak terisi.
Aku datang menjemput jiwa yang menangis untuk setiap anjing kelaparan.”

“Sungguh kematian itu menyakitkan, wahai nenek baik hati,
Tapi rengkuh sayapku kuharap akan mengurangi setiap kesakitanmu.
Biarlah di dunia tak ada yang mengasihi jiwamu yang sebatang kara
Biarlah setiap malaikat menyambutmu disana, di tempat yang kami janjikan untukmu.”

“Marilah, nenek tua persimpangan jalan yang baik hati.
Marilah ikut denganku meninggalkan kesemrawutan ini.”

(BumiAllah, Mei 2014)

Immortality

Aku sebenarnya ingin menulis ini tepat setelah kepergianmu. Namun apa daya, semua serpih kesibukan duniawi dan kehilangan atasmu yang menggenangi otakku mengurungku dalam kematisurian pikiran. Maka hari ini adalah hari dimana aku berharap bisa mengirim sepucuk surat kecil untukmu.

Kenangan masih lekat ketika kau dan aku sama-sama mendengarkan lagu dari pemekak suara anyarmu. Ya, kau selalu tertarik dengan barang-barang elektronik yang bermain dengan suara, dan kau cukup konservatif. Kau mencemooh pemekak suara digitalku dan memilih memberi pemekak suara konvensional yang memang kuakui, memiliki kualitas suara yang lebih dahsyat.

Jadi hari ini kunyalakan lagi pemekak suaramu dan memutar lagu kesukaan kita berdua, berharap bisa merasakan kehadiranmu sekali lagi.

So this is who I am, and this is all I know,
And I must choose to live, for all that I can give…

Aku suka Celine, dan kau pecinta The BeeGees. Bisa dipastikan lagu ini merupakan lagu favorit kita berdua. Kolaborasi luar biasa, katamu. Kau tak pernah suka gubahan lagu The BeeGees oleh siapapun, dan kau tak suka lagu-lagu baru The BeeGees setelah tahun 2000. Tapi kau membuat pengecualian untuk lagu ini. Aku tak tahu kau melakukannya hanya untukku atau kau memang sungguh-sungguh menyukainya. Dan aku tak peduli. Aku hanya peduli pada waktu yang kita habiskan berdua mendengarkan lagu ini.

And I will stand for my dream if I can,
Symbol of my faith and who I am
… but you were my only

Aku ingat kau selalu menjadi sumber kekuatanku. Kau angin yang berhembus di sayapku. Kau bumi yang menyangga pohon kehidupanku. Kau oksigen dalam atmosferku. Kau memberikanku kekuatan untuk memperjuangkan mimpiku, bahkan ketika kau tak menyetujuinya. Kau memberi tahuku tentang arti menanggung risiko, dan aku tak tahu siapa lagi yang bisa memberikannya selain kau.

And I must follow on the road that lies ahead
I won’t let my heart control my head,
… but you are my only

Aku ingat akulah yang memilih semua pilihan hidupku, dan kau tak pernah bilang kau setuju atau tidak. Kau selalu begitu. Kau membiarkanku memilih apa yang aku mau, menyokongku dan memberikanku kekuatan. Meskipun ketika kusadari aku salah memilih, kau tak pernah menyalahkanku. Kau menyadarkanku bahwa dalam hidup, kita tak pernah tahu benar atau salah sebelum kita menjatuhkan pilihan.

Fulfill your destiny
Is there within a child

Aku lagi-lagi tersadar bahwa mungkin semua kesalahan ini tak benar-benar tak berguna. Bahwa semuanya memiliki arti, dan arti itulah yang ingin kau tunjukkan padaku. Bahwa kita menjalani hidup untuk menemukan takdir kita, menemukan tujuan hidup kita, dan satu-satunya jalan adalah dengan melanjutkan perjalanan.

My strong will never end
My faith is on the way
But King of Heart’s joker well…

Maka kenapa aku mesti berhenti disini? Bukankah untuk semua yang kau pernah ajarkan padaku, aku harus tetap melanjutkan hidup? Kenapa aku mesti berhenti dan terpuruk disini? Kenapa aku harus membiarkan mereka menghalangiku dari mimpiku? Kau tak pernah ingin aku berhenti. Jadi meskipun dadaku sesak karena perasaan kehilangan atasmu dan mataku dibanjiri airmata, kekuatanku tak boleh pudar.

Karena kau tak ingin aku kalah.

Coz I have found a dream that must come true
Every ounce of me must see it through

Dan inilah mengapa aku harus bertahan. Kau tak pernah menuntutku untuk jadi juara. Kau tak pernah meminta apapun dariku. Namun aku tahu sepenuhnya kau ingin aku melanjutkan mimpiku. Jadi disinilah aku. Mengumpulkan segenap tenaga dan keberanian bertahan menghadapi semua badai dan semua hujan demi satu hal yang kau ajarkan padaku. Bahwa aku harus mewujudkan mimpiku.  Apapun yang terjadi.

Immortality…
There is a vision and a fire in me
I keep the memory of you and me inside…

Dan lagu ini menjelang penghabisannya. Aku tahu surat kecil ini mungkin tak berarti apapun bagi orang lain, tapi surat ini begitu berharga untukku. Aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku karena Tuhan mengirimkan seorang yang kuat dan luar biasa bijaksana untuk membantuku menghadapi dunia. Bahwa aku berterima kasih Tuhan telah mengirimku ke tangan yang kokoh, ke hati yang benar dan ke sosok yang mengajariku apa arti bersyukur.

Aku harus menghapus airmata kerinduanku. Bukan lagi saatnya menangisi kepergianku. Aku harus berdiri tegak, memberanikan hatiku menembus badai dan melangkahg dengan kepala tegak, seperti yang kau minta. Karena untukku, warisanmu bukan uang, bukan berlian dan bukan pula pemekak suara ini. Warisanmu adalah kekuatan yang kau berikan padaku di akhir hidupmu, untuk membantuku mewujudkan seluruh mimpiku.

We don’t say, goodbye….

Dear Papa, aku memang tak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu. Tapi kurasa selamat tinggal terlalu berlebihan. Karena pada kenyataannya kau tak pernah meninggalkanku. Kau terus hidup, dalam hatiku. Aku akan mengingat senyum terakhirmu sebagai api dari nyala kekuatanku yang takkan pernah padam.

Not your best daughter and never even trying to be one,
Alice.
(Bumi Allah, April 2014)

Does Having Choice Make Us Happy?

Ada penelitian menyatakan bahwa orang sekarang lebih gak bahagia dibanding orang dulu. Kalian percaya?

Tulisan ini sedikit banyak akan bercerita tentang hasil temuan Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice. Kalian bisa liat wikinya disini. Schwartz sendiri dalam bukunya tersebut menulis:

Autonomy and Freedom of choice are critical to our well being, and choice is critical to freedom and autonomy. Nonetheless, though modern Americans have more choice than any group of people ever has before, and thus, presumably, more freedom and autonomy, we don’t seem to be benefiting from it psychologically. —quoted from Ch.5, The Paradox of Choice, 2004

Gampangnya gini. Orang jaman sekarang, kita-kita ini, kan udah punya banyak pilihan dan bahkan punya kemerdekaan untuk memilih, yang dijamin di UUD 1945. Hehe. Contoh gampangnya, kalian pergi ke minimarket terdekat, mau beli shampoo. Begitu sampe dan berhadapan dengan rak shampoo, kalian bingung, mau beli shampoo merek apa, varian apa, yang ukurannya berapa, pake kondisioner atau yang kondisionernya terpisah, dan lain sebagainya. Bahkan gw, yang menganggap diri gw punya loyalitas merek yang tinggi, masih bingung jika dihadapkan pada pilihan macam ini. Gw akan mempertimbangkan antara lain, bagaimana kondisi kondisi rambut gw sekarang, mana yang paling pengen gw beresin dari kondisi rambut gw, mana varian shampoo yang paling cocok dengan masalah rambut gw, dan liat kondisi keuangan. Itu baru shampoo. Belom kalo gw dateng ke hipermarket dengan list belanja rumah tangga yang seabrek. Bisa tiga jam sendiri gw keliling-keliling hipermarket, mikirin semua kondisi dan pilihan yang gw punya.

Nah kenapa dengan segitu berlimpahnya pilihan kita justru makin menderita? Consider this. Bokap nyokap gw dulu kalo nonton TV cuma ada TVRI, pas jaman gw mulailah ada RCTI dan kawan-kawan, bahkan mulai bisa pasang TV kabel. Bokap nyokap gw girang dengan satu stasiun TV, sementara gw dan adek-adek gw harus rebutan nonton kalo misalnya di Jumat malem, gw pengen nonton Face Off di BeTV sementara adek-adek gw pengen nonton Indonesian Idol. Kebanyakan pilihan justru membuat utilitas kalian akan barang merendah. Semakin banyak kalian punya suatu barang, kalian akan mem-value barang itu rendah. Sebaliknya, semakin sedikit barangnya, kalian akan menggapnya semakin mahal. Ini menjelaskan kenapa harga tas Hermes Birkin mahal banget. Ya itu tadi, limited edition, sehingga yang punya pun pasti kalangan tertentu aja.

Trus gimana dengan pemilu sekarang? Kan jumlah partai juga banyak, calon presiden banyak? Nah itu juga salah satu yang bikin gak bahagia. Kalian kan bakal milih salah satu kandidat presiden. Nah begitu dia kepilih, kalian kan committed to him, ‘kan? Mau dia sediktator Suharto atau se-meaningless SBY, tetep aja kalian harus anggap dia presiden kita. Nah komitmen ini juga yang bikin gak bahagia. Kalo kaitannya ama produk, begitu gak memuaskan, kalian bisa buang dan kalian beralih ke produk lain. Tapi begitu ngomong soal presiden, kalian cuma punya dua pilihan: kalian meninggalkan Indonesia atau kalian demo sampe dia turun kayak Suharto.

Hal ketiga yang bikin kita makin gak bahagia karena punya banyak pilihan adalah kesempatan yang hilang. Misalnya kalian mau beli HP di Roxy. Setelah keliling Roxy, kalian nemu satu toko yang jual harga HP paling murah. Kalian beli HP disana. Sambil jalan pulang, taunya kalian menemukan ada satu toko lain, yang nyempil banget dan jual HP kalian dengan harga yang jauh lebih murah dari toko tadi. Kalian pasti nyesel banget kan, kenapa kalian gak beli HP di toko nyempil itu? Nah, kesempatan yang hilang untuk mendapatkan HP yang lebih murah inilah yang bikin kalian lebih gak bahagia. Apalagi kalo sampe di rumah nanti kalian masih kebayang-bayang kenapa kalian beli HP di tempat yang tadi dan bukan di toko yang nyempil itu?

Demikianlah. Punya banyak pilihan gak selalu baik, dan malah lebih banyak buruknya. Banyak pilihan justru bikin kalian bingung mau milih yang mana, dan apakah kalian siap dengan konsekuensi bahwa pilihan kalian ternyata bukanlah pilihan terbaik.