0When I Stop Blaming Others, the World become a Nicer Place

Saat menulis tulisan ini, saya baru saja tiba di kamar setelah penerbangan saya dibatalkan dan dijadwalkan ulang untuk berangkat besok pagi. Saya gak sendirian. Ada beberapa penerbangan lain yang juga dibatalkan keberangkatannya dan sampai saat ini, ratusan penumpang masih memenuhi counter customer service untuk menunggu kepastian dari pihak maskapai.

Kalau kalian bertanya apakah saya marah, saya jelas marah. Saya rugi waktu, seharusnya berangkat jam 18.20 kemudian ditunda hingga 20.20 dan akhirnya dibatalkan. Saya rugi uang, karena sudah telanjur memesan hotel di tempat tujuan dan bayar untuk malam ini. Namun, kali ini saya memilih untuk gak mengamuk di counter customer service seperti penumpang lainnya. Bagi kalian yang mengenal saya, ini suatu keanehan karena dengan tabiat nyinyir dan mulut sampah saya, seharusnya saya sudah “menghabisi” customer service maskapai dengan kata-kata pedas.

Ada beberapa alasan mengapa akhirnya saya memutuskan untuk gak mengamuk di bandara. Alasan pertama, saya memahami sepenuhnya bahwa kekacauan ini bukanlah sepenuhnya kesalahan maskapai. Landasan bandara rusak sehingga bandara harus ditutup selama tiga jam dan berdampak beberapa penerbangan komersil dibatalkan (selengkapnya baca disini). Saya tahu bahwa pihak maskapai juga dirugikan dengan kejadian ini karena harus membayar kompensasi kepada para penumpang sesuai UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan Permenhub Nomor 89 Tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan Penerbangan pada Badan Usaha Angkutan Niaga Berjadwal di Indonesia (selengkapnya cari aturannya atau baca disini), atas kekacauan yang tidak diakibatkan oleh kesalahan mereka sendiri. Pihak maskapai saya kebetulan profesional dan taat hukum, jadi mereka menjadwalkan ulang penerbangannya dan memberi kompensasi penginapan kepada para penumpang yang memang butuh penginapan. Saya? Lha wong rumah saya cuma berjarak delapan kilometer dari bandara. Mosok mau ikut minta penginapan?

Alasan kedua, karena saya melihat banyak penumpang lain yang kondisinya jauh lebih dirugikan dengan keterlambatan dan penundaan penerbangan ini. Ada nenek A yang meskipun sudah berjalan memakai tongkat, tetap bepergian sendiri dengan luar biasa gagah hanya untuk bertemu anak-anaknya. Ada bapak B yang single parent dan baru saja selesai perjalanan dinas ke Jakarta, bela-belain pulang duluan dari rekan rombongannya karena anak bungsunya sakit. Ada mas D yang besok harus ikut seminar yang dimulai jam 9 pagi, yang mana tiket seminarnya lebih mahal ketimbang harga tiket pesawatnya. Yang paling miris, adalah kisah mbak C. Mbak C akan menghadapi salah satu momen paling penting dalam kehidupan akademisnya: sidang skripsi, yang jadwalnya besok pagi jam 08.00. Sayangnya, penerbangan mbak C dijadwal ulang besok jam 09.40 pagi. Mbak C tentu panik dan marah, dan kami semua harus berusaha menenangkan mbak C sambil menjadi saksi untuk membantu meyakinkan dosen pembimbingnya agar sidang tersebut juga bisa dijadwal ulang. Sidang mbak C akhirnya dijadwal ulang di hari Senin, dan drama itupun diakhiri dengan wirid bersama agar mbak C lulus sidang.

Dengan banyaknya drama yang jauh lebih dramatis tersebut, mosok iya saya yang cuma mau jalan-jalan ini harus mengeluh dan mengamuk di counter customer service? Saya terima apa adanya saja, toh gak ada yang bisa disalahkan atas kejadian ini. Baik pihak maskapai maupun para penumpang gak punya andil dalam kekacauan tersebut. Kalaupun ada yang harusnya disalahkan, ya mungkin pihak pengelola bandara. Namun pihak pengelola bandara pun sudah berusaha sekuat tenaga untuk membetulkan landasan yang rusak, walaupun pada akhirnya domino effect-nya tetap tak terhindarkan.

Dalam perjalanan pulang, saya berpikir alangkah baiknya kalau kita coba berpikir jernih dan mempertimbangkan segala sesuatu dari berbagai aspek. Saya yakin bahwa ada banyak cara memandang suatu masalah, sehingga ketimbang hanya melulu menunjuk dan menyalahkan orang lain atas kejadian yang kita alami, mencoba mengerti posisi orang lain akan membuat kita jadi lebih bijaksana menyikapi masalah. Jika pun harus mengambil keputusan, keputusannya pun saya yakin akan jauh lebih efektif dan akomodatif.

Jadi, kejadian kali ini bikin saya menyadari bahwa jika kita berhenti menyalahkan orang lain dan melihat sekeliling dengan lebih baik, kita mungkin akan sadar bahwa dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dari prasangka kita. Ada banyak hal yang bisa disyukuri di dunia ini. Tambahan lagi, kita juga akan jadi jauh lebih bijaksana menghadapi masalah. Tantangan buat kita bukanlah semata-mata bagaimana kita menemukan solusi dari masalah, tetapi lebih kepada bagaimana solusi yang kita pilih membuat dunia ini jadi lebih baik.

Satu hikmah lain yang bisa saya ambil adalah: saya gak akan terbang dari Halim lagi dan tolong kembalikan Halim jadi sekedar pangkalan militer! Haha.

The Power of Acceptance and The Strength in Letting Go

hermannhesse384604

Kalo kalian pernah baca blog ini, ada satu postingan gw tentang Life is Always Full of Surprises. Coba deh scrolling2 di blog ini.

Akhir-akhir ini gw baca bukunya Deepak Chopra The Seven Spiritual Laws of Success. Ada satu chapter dalam buku itu, kalo gak salah chapter 4, yang bilang kalau sometimes, kita harus menerima apapun yang terjadi pada kita dengan lapang dada, karena jika kita terus melawan dan mengingkarinya, justru malah akan melukai kita lebih dalam. Dari sini bisa disimpulkan bahwa kadang dengan menerima keadaan, kita bisa jadi lebih tenang dan melihat peluang baru yang mungkin muncul di masa depan.

Gw, yang seumur hidup “dipaksa” berjuang untuk segala sesuatu yang gw inginkan, merasa luar biasa tertohok. Gimana mungkin gw bisa tenang menerima sesuatu yang buruk yang menimpa gw dan melepaskannya dengan ikhlas padahal gw tahu sesuatu itu awalnya sangat gw inginkan? However, time seems to befriend me this time, and show me the power of acceptance, and the strength in letting go.

Sebagai contoh, pada suatu hari, hidup kembali melemparkan lemon ke muka gw. The ripest one, the handsome one *eh. Gw pun menyambut kedatangan lemon dengan suka cita karena lemon ini nampaknya mampu menjanjikan lemon lain yang sangat gw mimpi-mimpikan beberapa tahun terakhir ini. Beberapa bulan setelah gw memiliki lemon ini, gw baru sadar kalau lemon ini mulai membusuk dan menunjukkan tanda-tanda yang sama sekali beda dari yang gw lihat pertama kali. Karena the fighter way life taught me before, gw tetep bertahan memegang erat lemon itu, meski gw tau dan semua orang udah memberi tahu gw kalau lemon itu membusuk. Gw berusaha mengubah lemon itu, memoles lemon itu, memberi pengawet dan sebagainya sehingga nampak jadi lemon yang gw inginkan. Pada akhirnya, lemon itu kembali membusuk, dan gw dengan berat hati melepaskan lemon itu dari genggaman gw.

Awalnya, gw menyesal melepaskan lemon, dan sampai saat inipun masih sering mimpi buruk keingetan lemon itu. Namun gw sadar, bahwa memperjuangkan sesuatu yang mustahil mungkin hanya akan berakhir melukai gw lebih dalam. So I just accept the fact that the lemon is not there anymore, settle things that has been broken during my relationship with that lemon and try to move on with my life. Berat? Pasti. Bagian paling berat adalah bahwa setelah seumur hidup gw “dilatih” untuk pantang menyerah, kali ini gw seolah “dipaksa” menyerah.

Kejadian ini membuat gw menyadari the power of acceptance tadi. Dalam ajaran islam (I’m moslem but not the religious one) juga diajarkan tentang ikhlas dan tawakal. Walaupun gw sampai saat ini tetap beranggapan bahwa ketiganya harus datang setelah kerja keras, pada akhirnya gw tahu bahwa setelah kerja keras, kita harus tidak memaksakan output yang kita inginkan (tawakal), dan dengan lapang dada menerima semua kejadian dan hasil yang mungkin, jauh di luar ekspektasi kita (ikhlas).

Karena, well, life is always full of surprises, right? And acceptance is always a choice.