Indonesian Socmed Users, Don’t Sweat the Small Stuffs!

Welcome September! Haha, now I make another challenge for myself. Maybe I’ll call it September challenge. Tentang apa? Mungkin lagi-lagi tentang hal kecil yang gw gede-gedein.

Akhir-akhir ini media Indonesia kedatangan seorang selebritis baru, namanya Flo Sihombing. Eda Flo ini baru saja naik daun gara-gara curhatannya di media sosial bernama Path. Konon, Eda Flo ini tinggal di Jogja, dan suatu ketika ingin beli bahan bakar untuk motornya. Celakanya, bahan bakar subsidi lagi langka belakangan ini dan Eda Flo yg mungkin sedang terburu-buru berusaha menyela antrean. Petugas pom menolak melayani si eda dan si eda inipun marah. Dia melancarkan curhatnya di Path dan celaka karena ada temannya yang mengcapture curhatannya yg ternyata bernada tak sedap itu, kemudian menyebarkannya kemana-mana.

Kasus Eda Flo bukan yang pertama terjadi di Indonesia. Kita juga pernah kedatangan selebritis media sosial lain yang bernama Dinda. Dinda ini jadi sasaran kenyinyiran masyarakat gara-gara gak mau kasih tempat duduk di kereta kepada ibu hamil.

Kesamaan kasus Dik Dinda dan Eda Flo adalah mereka berdua melancarkan curhatnya ke Path, kemudian ada temannya yang mengcapturenya dan menyebarkannya ke media sosial lain. Mereka berdua pun sukses naik daun sebagai “musuh bersama” para pengguna media sosial Indonesia.

Trus, apa pesan moral dibalik dua kasus ini? Apakah kita gak boleh mengungkapkan kekesalan di media sosial?

Buat gw, gak ada yang salah dari Dik Dinda atau Eda Flo. Path adalah media sosial yang (tadinya) hanya dikhususkan untuk saling berbagi dengan 150 orang. Menurut penelitian, satu orang memang hanya akan memiliki lingkaran pertemanan yang dekat dengan maksimal 150 orang. Jadi Path memang dikhususkan untuk media berbagi dengan teman-teman dekat.

Eda Flo dan Dik Dinda memang gak salah jika kemudian curhat di Path, mengingat mereka “seharusnya” hanya curhat kekesalan mereka pada teman-teman dekat. Mana mereka mengira kalau ada salah satu dari teman dekat itu yang kemudian “mengkhianati” kepercayaan mereka dan malah menyebarkan curhatan mereka ke khalayak umum?

Perkembangan media sosial di Indonesia memang menakjubkan. Jumlah pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia adalah yang paling banyak di seluruh dunia. Semua orang, semua bisnis dan segala kalangan hampir bisa dipastikan memiliki minimal satu akun media sosial. Dengan jumlah pengguna sebanyak ini, masyarakat menjadi “lapar” akan sensasi-sensasi yang bisa menjadi sasaran empuk komentar mereka. Dan seperti kata pepatah “bad news travels fast”, sensasi berbau negatif tentu akan lebih cepat menyebar. Jangankan curhat Dinda dan Flo yang terkesan negatif, liburan Syahrini dan hobi memotret Ibu Ani Yudhoyono yang seharusnya merupakan kegiatan positif pun kemudian dikomentari negatif dan dijadikan bahan lawakan.

Pengguna media sosial Indonesia juga kejam. Mereka tak kenal ampun dalam memberikan komentar, plus menjadikan hal yang semendasar curhat menjadi hal besar. Mereka tak peduli sisi lain dari sensasi tersebut, misalnya mengapa Dinda gak mau memberi tempat duduknya atau sisi Jogja mana yang dilihat Flo sehingga ia bisa mengatakan hal seperti itu dalam curhatannya. Yang terpenting bagi pengguna media sosial Indonesia adalah, begitu ada sensasi yang terkesan negatif, mari kita bully bersama-sama. Mereka lupa kalau di bangku sekolah dulu, kita semua diajari untuk menjadi bijaksana dan tenggang rasa.

Kita memang gak akan tahu teman mana di media sosial yang akan meng”khianati” kepercayaan kita dengan menyebarluaskan curhatan kita. Tapi dengan kondisi pengguna media sosial Indonesia yang demikian, tak ada salahnya kita lebih berhati-hati dalam memilih tempat mengungkapkan isi hati.

And Indonesian Social Media Users, please stop sweat the small stuffs!!