2017 in My Point of View

Saya mau nulis hal-hal yang bikin 2017 ini berkesan ah. Sudah lama banget saya gak nulis tentang hal-hal pribadi dan ketimbang blog ini jadi blog reviu film belaka, mending saya selipin beberapa tulisan pribadi. Iya-in aja. Hahaha.

2017 bukan tahun terbaik saya dan tahun terbaik saya di dekade 2010an masih di 2015 saat lulus s2, tetapi di 2017-lah saya dapat banyak kesempatan untuk ketemu banyak orang dan lebih mengenal diri saya sendiri. Bagi sebagian orang, mengenal diri sendiri di usia 31 adalah super duper telat. Buat saya, mengenal diri sendiri adalah perjalanan sepanjang usia, makanya hal ini jadi penting buat saya.

Jadi, long story short, beberapa hal yang patut disyukuri di 2017 ini adalah sebagai berikut:

1. Lebih Dekat sama Mama

Saya ini anak hilang, the lost girl. Sejak Papa meninggal, saya menutup diri dari keluarga karena menganggap takkan ada anggota keluarga saya yang akan mengerti saya sebagaimana Papa mengerti saya. Well, the lost girl finally finds her way back home. Saya lupa tepatnya kapan, tetapi Tuhan seolah memberi jalan agar dua perempuan yang raut muka, tabiat dan mulut sarkasnya serupa ini mendadak bisa punya kesempatan untuk bicara satu sama lain. Sejak kecil, saya tak pernah dekat dengan Mama, dan setelah Beliau pensiun inilah saya baru berani membuka kedekatan lagi dengan Beliau.

2. Berdamai dengan Kenyataan

Saya bukan orang yang gampang menerima kenyataan, kebanyakan halu malah kadang. Saya ini pemberontak sejati, terlebih urusan pekerjaan. Sejak 2010, saya selalu siap untuk hengkang dari pekerjaan saat ini dan keinginan terus meningkat setelah saya lulus S2 di 2015. Ajaibnya di 2017, saya memutuskan berhenti mencari dan berdamai dengan pekerjaan ini. Pertimbangan utamanya adalah saya tak mampu menjamin apakah saya akan landing on heaven or hell di luar sana. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk grow up and settle down, dan hal ini justru membuat saya menemukan alasan ketiga.

3. Passion Baru

Keputusan untuk grow up and settle down membuat saya menemukan passion baru: strategic planning. Sebenernya bukan baru-baru banget karena kekhususan S2 saya pun gak jauh dari perencanaan strategis, cuma saja kali ini akhirnya saya bisa menerapkan teori di kehidupan nyata, haha. Enaknya lagi, saya jadi bisa melihat bagian-bagian mana saja yang berjalan ke arah gak seharusnya, bagian mana yang belum dilaksanakan secara kaffah, sambil menggali dasar-dasar hukumnya. Nah, passion baru ini juga menuntun saya kepada alasan keempat.

4. Belajar Lebih Banyak

Oke, saya mengakui saya rakus sekali terhadap diklat tahun ini melebihi pegawai lain. Saya mungkin mengambil jatah diklat pegawai lain dengan ikut empat, sekali lagi ah biar afdhal, EMPAT diklat tahun ini! Tiga diklat berkaitan sama perencanaan strategis, yang satu lagi karena malas cuti dan ingin kabur dari kantor, haha. Belum lagi jam yang saya habiskan membaca jurnal dan peraturan-peraturan. Pusing ya ngebayanginnya? Buat saya yang hobinya belajar, saya menikmati banget prosesnya.

5. Jaringan Pertemanan yang Tambah Luas

Bonus lain dari berdamai dengan kenyataan dan passion baru tersebut adalah network yang tambah lebar. Jadi gini, pekerjaan saya itu lumayan banyak karena jumlah karyawannya sedikit dan load-nya yang amit-amit. Berkahnya adalah, load kerjaan yang banyak itu justru bikin saya keseringan meeting dan ketemu orang baru. Belum lagi pas diklat, saya jelas ketemu lebih banyak lagi orang baru. Berkat banyaknya kenalan baru, saya mulai belajar untuk melihat orang dari kemampuannya, bukan hanya dari perilaku dan sifatnya belaka. Tambahan lagi, saya jadi punya banyak “sayap” di mana-mana, dan banyak teman juga jadi banyak rejeki kan? Haha, semoga aja.

6. Investasi Bertambah

Buat saya millennial, keputusan investasi besar semacam properti itu butuh waktu tahunan untuk diambil. Saya lebih suka investasi pada saham, dan kemudian ganti jadi reksadana karena saya gak lagi cukup sabar melihat perkembangan kondisi ekonomi setiap harinya. Balik lagi karena saya memutuskan untuk grow up and settle down itulah maka akhirnya saya merelakan diri melepas hobi nongkrong (karena sebagian besar teman nongkrong saya pun sudah nikah dan beranak pinak haha) dan memutuskan untuk beli properti.

7. Hobi Baru

Selain passion baru, 2017 ini saya juga punya hobi baru. Tepatnya sih, kegilaan baru. Saya jadi hobi banget nonton film dan bisa tiap minggu datang ke bioskop. Saya bahkan bisa tahu kapan sebuah film tayang di bioskop Indonesia dan jadi rajin menyimak twitternya 21 cineplex demi jadwal film baru. Saking hobinya ke salah satu bioskop di kawasan Cikini, saya sampai bisa minta utang beliin tiket sama manajernya kalau Mtix saya lagi bermasalah, haha. Kegilaan terhadap nonton film ini kemudian berlanjut ke alasan berikutnya.

8. Blog yang Lebih Produktif

Saya sih dulu ngakunya hobi nulis, cuma cepat banget bosannya. Jadi beberapa blog yang pernah saya kelola berakhir mangkrak di tengah jalan. Nah, karena sadar diri pekerjaan semakin menggila dan saya butuh hal yang bisa bikin saya tetap waras, maka saya pun memutuskan untuk menghidupkan blog ini dan mengisinya dengan…. reviu film! Haha. Ya saking saya gilanya nonton film di bioskop, saya pikir kenapa gak sekalian aja saya tulis reviu filmnya? Jadi, sambil memberi informasi, sambil saya menjaga otak tetap waras dengan menulis. Kali aja ada koran yang minat rekrut saya jadi freelance writer kan #ngarep

9. Dedek

Nah yang ini cukup spesial ya. Sebenernya kami gak mulai di 2017, kami mulai di akhir 2016 dan saya memulainya dengan setengah keyakinan. Harap maklum, di 2016 saya mengalami patah hati cukup parah dan si Dedek dengan persistent mendekati saya dengan cara…. datang ke rumah dan mengambil hati Mama haha. Setahun bersama, dia jadi satu-satunya orang yang bisa saya ajak bicara segala hal, dari soal curhatan sampai omongan soal ekonomi, dari soal LGBT sampai soal Ahok. Kecuali terhadap kecintaannya yang berlebihan sama Lego dan Gundam, saya pikir saya gak punya keberatan lain kepada pria satu ini.

9 alasan diatas sebetulnya saling terkait satu sama lain ya, kecuali nomor 1 dan nomor 9. Hikmah yang bisa saya ambil adalah bahwa ketika saya memutuskan untuk mulai berdamai dengan diri sendiri, ada banyak hal baik yang kemudian datang secara silih berganti. Saya jadi ingat saya pernah berdoa untuk sebuah kehidupan yang direstui Tuhan, dan mungkin ini adalah salah satu proses yang diinginkan Tuhan menuju jalan yang ditentukan-Nya dari saya. Saya gak punya resolusi untuk 2017, dan saya beruntung karena Tuhan memberi saya lebih banyak hal daripada yang saya minta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s