Surat Kecil untuk Tuhan (2017): Tolong Kembalikan Joe Taslim ke Film Laga!

Directed by: Fajar Bustomi | Produced by: Frederika | Based on Novel with the same title by: Agnes Davonar | Cinematography by: Yudi Datau | Screenplay by: Upi | Starring: Bunga Citra Lestari, Joe Taslim, Izzati Khanza, Bima Azriel, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Aura Kasih, Maudy Koesnaedi | Distributed by: Falcon Pictures

7.2/10

Ini reviu kedua yang saya tulis dalam Bahasa Indonesia. Mungkin trend ke depannya akan demikian. Film Indonesia akan tetap direviu dalam Bahasa Indonesia, sedangkan film selain film Indonesia akan direviu dalam Bahasa Inggris.

Ketika mencari tahu tentang film ini, saya baru tahu kalau ada film dengan judul serupa yang rilis tahun 2011, dibintangi Alex Komang. Usut punya usut, novel dari mana film ini diadaptasi rupanya semacam antologi dengan banyak cerita. Film ini, sebagaimana film tahun 2011, adalah salah satu dari cerita dalam antologi yang ditulis Agnes Davonar dengan judul Surat Kecil untuk Tuhan. Jadi, dua film dengan judul sama ini tidak berkaitan sama sekali, meski dua-duanya punya adegan sama dimana si tokoh utama menuliskan harapan dan doanya melalui surat untuk Tuhan.

Surat Kecil untuk Tuhan (2017) bercerita tentang sepasang kakak beradik yatim piatu Anton (Bima Azriel) dan Angel (Izzati Khanza) yang nekat kabur ke Jakarta karena kerap disiksa pamannya sendiri. Di Jakarta, Anton dan Angel tertangkap dan dipekerjakan oleh Rudi (Lukman Sardi) untuk jadi pengamen jalanan dan harus menyetor uang setiap harinya. Suatu hari, Angel tertabrak mobil ketika hendak menyeberang jalan dan ditolong oleh Soraya (Maudy Koesnaedi). Selagi Angel dirawat di rumah sakit, Rudi memberi tahu Anton bahwa ada keluarga yang siap mengadopsinya. Lima belas tahun kemudian, Angel dewasa (Bunga Citra Lestari), yang belakangan diketahui diadopsi oleh Soraya dan suaminya Edward (Jeroen Lezer), menjadi pengacara sukses yang memilih bekerja membela kaum tertindas di Sydney. Namun, selama lima belas tahun ini pula, bayangan Anton terus menghantui Angel. Angel pun nekat kembali ke Indonesia untuk mencari jejak Anton, meninggalkan karir dan pertunangannya dengan Martin (Joe Taslim), seorang dokter ahli jantung muda.

Saya jarang nonton film Indonesia, tetapi percayalah sampai detik ini, jarang sekali ada film Indonesia yang bikin saya tergerak dan salut. Tahun ini, baru film Ziarah (2017) yang sukses bikin saya menangis dan terpukau meski jalan ceritanya sederhana dan jauh dari kemewahan. Film ini, meski digadang-gadang sebagai “film yang menguras emosi”, nyatanya gagal membuat saya gak ngantuk selama menontonnya. Alasannya sederhana. Saya mengakui kalau plotnya ambisius, berpotensi menjadi both tearjerker dan satir terhadap fenomena di balik kehidupan jalanan Jakarta yang selama ini dipandang sebelah mata. Plot bagus dibangun dari scene-scene awal dimana penonton dihadapkan pada kondisi Anton dan Angel yang cuma menampilkan satu nada: elegi.

Sayangnya, begitu plot diarahkan pada plot besarnya, yakni kehidupan Angel setelah dewasa, cerita lantas jadi acak-acakan, dan seperti membuang sia-sia suasana sedih yang dibangun sejak awal. Cerita ditarik dari pencarian Angel pada sosok Anton, hingga pengungkapan rahasia mengerikan di balik risiko yang mengancam anak-anak jalanan, yang sebenarnya punya potensi bagus untuk dijadikan plot utama. Saya tadinya berharap cerita akan diakhiri dengan drama courtroom macam episode di serial Law and Order atau Ally McBeal, dan menonjolkan sosok Angel sebagai pengacara sukses yang berjuang menghadapi masa lalunya yang kelam. Namun, film ini justru memilih untuk mengakhiri ceritanya dengan twist yang bikin film ini jadi lebih mirip Kuch Kuch Hota Hai (1998) ketimbang Lion (2016) yang dianggap mengusung tema serupa. Drama courtroom-nya hanya dijadikan scene sekilas yang kehilangan emosinya. Parahnya lagi, twist-nya pun nanggung, padahal jika mau digarap lebih serius dengan menekankan pada revealing scene-nya, film ini harusnya berakhir dengan lebih memuaskan.

Aktor paling menonjol disini jelas Lukman Sardi. Dengan penampilan yang jauh berbeda ketimbang biasanya, Lukman lagi-lagi menunjukkan kelasnya sebagai salah satu aktor paling versatile yang dimiliki Indonesia saat ini. Lukman berhasil membuktikan bahwa jadi antagonis tak perlu identik dengan mata melotot dan nada suara tinggi. Posturnya yang kurus justru mendukung paradoks antagonismenya. Di lain sisi, Bunga Citra Lestari cukup sukses mengendalikan seluruh emosi film ini. Didapuk jadi penopang dari keseluruhan emosi film, Bunga menampilkan kemarahan dan kesedihan yang seimbang, meskipun lagi-lagi karena plot filmya acak-acakan, emosi Bunga jadi seperti terbuang sia-sia. Yang paling disesalkan dari casting film ini adalah pemilihan Joe Taslim sebagai dr. Martin, tunangan Angel. Joe Taslim mungkin merupakan salah satu aktor Indonesia paling populer saat ini, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Sayangnya, skenarionya membuat Joe tampil inferior dibanding Bunga, sehingga terkesan Martin hanya lelaki cengeng yang rela melakukan apapun untuk meraih kembali cinta kekasihnya. Padahal, kalau mau digali lebih lanjut, karakter Martin seharusnya bisa jadi penyeimbang sisi emosional Angel.

Jadi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan film ini, saya akan bertanya apakah kalian penyuka drama. Jika ya, silakan menonton film ini. Namun jika Anda adalah penonton film awam seperti saya, ya mendingan tunggu filmnya diputar di TV lokal saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s