Jailangkung (2017): Tenggelam dalam Nama Besar Pendahulunya

Directed by : Jose Poernomo, Rizal Mantovani | Produced by: Sukhdev Singh, Wicky V. Olindo | Screenplay by: Baskoro Adi Wuryanto | Starring: Lukman Sardi, Hannah Al Rashid, Amanda Rawles, Jefry Nichols, Wulan Guritno, Butet Kertaradjasa | Production Company Screenplay Films, Legacy Pictures

6.5/10

Saya memutuskan untuk menulis review ini dalam Bahasa Indonesia, meskipun saya menyadari saya jauh lebih confident menulis dalam bahasa Inggris. Jadi, saya mohon maaf atas ketidakpatuhan saya dalam kaidah penulisan tulisan argumentatif dalam tulisan kali ini.

16 tahun yang lalu, saya masih ingat saya minta uang pada mama saya untuk nonton film Jelangkung (2001). Film tersebut fenomenal, both haunting and pioneering the Indonesian horror genre. Terbukti sampai hari ini, dengan sekian banyak judul film horor Indonesia yang rilis selama 16 tahun ini, film Jelangkung yang rilis di tengah mati surinya perfilman nasional dan satu angkatan dengan Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta ini masih memorable buat saya, dan merupakan salah satu film horor Indonesia di luar horor Suzanna yang bikin saya jadi parno beberapa waktu setelah menontonnya.

Hari ini, ketika saya pamit pada mama saya untuk menonton film ini (kali ini gak pakai minta uang karena alhamdulillah sudah lebih cerdas memanfaatkan voucher tiket Gotix, haha) mama saya nanya, “Lho, ini film Jelangkung yang tempo hari itu? Keluar lagi?” Jika kalian berpikiran sama dengan mama saya, maka saya akan jawab, “Bukan. Ini bukan film tahun 2001 yang diputar ulang macam film-film Studio Ghibli yang lagi tayang ulang di bioskop tiap awal bulan, atau remake dari film Jelangkung.” Meski dua tokoh utama di balik film Jelangkung, Jose Poernomo dan Rizal Mantovani, kembali reunian di film ini, film ini adalah film baru, baik dari segi cerita, atau dari segi, ehem, intensitas horornya.

Jailangkung (2017) berkisah tentang keluarga Ferdi Joyonegoro (Lukman Sardi), duda beranak tiga yang ditinggal mati istrinya Sarah (Wulan Guritno) saat melahirkan anak mereka yang bungsu. Ketiga anak Ferdi: Angel (Hannah al Rashid), Bella (Amanda Rawles) dan Tasya (Gabriella Quinlynn), tidak pernah mengetahui kalau ayah mereka kerap kali datang ke sebuah rumah di pulau terpencil di Jawa Timur, sampai suatu hari Ferdi pulang dalam kondisi koma. Berbekal nekat dan pengetahuan minim tentang konsep jiwa raga, ketiganya berangkat ke pulau tersebut ditemani Rama (Jefry Nichols), teman Bella yang juga pemerhati konsep kejiwaan. Disana, mereka menemukan fakta bahwa Ferdi datang kesana untuk memanggil arwah mendiang istrinya. Seperti sudah disepakati sebelumnya, pada hari naas tersebut, Ferdi memanggil arwah yang salah, mengabaikan peringatan Sarah bahwa ada arwah yang ingin membalaskan dendam lamanya pada mereka.

Seperti yang saya bilang sebelumnya kalau film ini menawarkan pembaruan daripada film Jelangkung, baik dari segi cerita yang lebih terkesan ingin menonjolkan drama keluarga berlatar horor, atau dari segi pace filmnya yang bikin saya pingin garuk-garuk kepala karena inkonsistensinya. Jika pada film Jelangkung (2001) lebih menonjolkan kisah anak-anak muda penasaran, maka film Jailangkung (2017) ini menambahkan sedikit latar belakang keluarga yang menghadapi kutukan karena perbuatan leluhurnya di masa lalu. Sukses? Gak juga. Saya agak bingung alasan di balik penambahan drama keluarga ini. Jika alasannya adalah untuk menciptakan diferensiasi dengan film pendahulunya, maka penambahan ini boleh dibilang memberikan nuansa baru. Namun demikian, nuansa baru yang ditampilkan sayangnya justru mengurangi intensitas kengerian yang ditimbulkan. Ditambah lagi, kenyataan bahwa akting aktor-aktor muda macam Amanda Rawles dan Jefry Nichols justru tenggelam setiap kali mereka berada dalam satu scene dengan Lukman Sardi atau Hannah Al Rashid. Selain ditambahkannya drama keluarga, berubahnya mantra juga mengurangi intensitas horor dari film ini. Alih-alih menambah kengerian dengan mantra baru “datang gendong, pulang bopong” menggantikan that famous “datang tak dijemput, pulang tak diantar”, mantra tersebut jadi terkesan lucu karena rhyming yang dipaksakan.

Pace filmnya juga penuh inkonsistensi. Untuk beberapa adegan, film terasa bagaikan dikejar setan (literally) sehingga penonton dibuat sulit bernapas dan teringat pada kengerian di Jelangkung  (2001). Beberapa adegan yang lain justru seperti dipanjang-panjangkan, bertele-tele dan bikin saya pingin tidur saja karena memunculkan banyak pertanyaan dan lubang-lubang di badan ceritanya. Beberapa adegan juga terkesan dipaksakan, dibikin seolah-olah mengerikan padahal ketegangannya tidak terbangun penuh sebelumnya, sehingga terasa janggal dan gampang ditebak. Sedikit spoiler, adegan paling dipaksakan menurut saya adalah saat karakter Angel melahirkan bayi setan di liang lahat. Adegan ini mungkin terinspirasi dari film Beranak dalam Kubur (1972), tetapi skenarionya buruk banget sehingga saya jadi bisa menebak jelas arahnya dan kengeriannya pun jadi jauh berkurang. Adegan ini juga gak terasa signifikansinya di keseluruhan cerita, atau memang mungkin disiapkan untuk petunjuk bakal adanya sekuel selanjutnya.

Casting para pemainnya juga menurut saya butuh perbaikan disana-sini. Lukman Sardi memang terasa dominan, tetapi menempatkan Hannah Al Rashid sebagai putri tertuanya tanpa membuat Lukman tampak jauh lebih tua kok ya seperti memberi obat batuk pada penderita maag. Tidak fatal, memang, tetapi gak pas juga. Belum lagi Amanda Rawles dan Gabriella Quinlynn yang gak mirip sama sekali sehingga tidak terasa seperti saudara sekandung. Karakter Rama yang diperankan Jefry Nichols juga nampak seperti memenuhi karakter laki-laki ganteng yang memang kurang di film ini. Hal terakhir yang buat saya cukup mengganggu adalah cara pengambilan gambar menggunakan aerial shot yang berlebihan sehingga jadi terasa seperti menonton via Google Earth. Belum lagi karakter hantunya yang lebih ngepop dan imut jika dibandingkan dengan suster ngesot yang dipopulerkan oleh Jelangkung (2001).

Overall, film ini cukup bagus jika dibandingkan dengan beberapa film horor Indonesia lain selama kurun waktu 16 tahun setelah Jelangkung (2001) dirilis. Namun jika dibandingkan dengan Jelangkung atau dengan Tusuk Jelangkung (2003) sekalipun, saya rasa-rasanya masih lebih memilih untuk menonton kedua film pendahulunya tersebut ketimbang nonton film ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s