Learn to Dance

Saya kok rasa-rasanya udah lama ya gak nulis selain movie review. Salah banyak hal yang bikin saya males nulis adalah karena kerjaan numpuk (tapi masih sempet nonton film di bioskop di hari premier kan, hehe), adalah karena saya lagi ada di zona malas saya. Malas ngapa2in deh. Bahkan traveling pun malas. Kebayang kan, yang mengaku travel addict macam saya kok bisa-bisanya menolak tawaran balik ke Komodo, atau menjelajah Togean. Rasa malas ini bikin saya mikir saya enuh dengan hidup saya sendiri.

Singkat cerita, daripada saya kebanyakan ngeluh daripada nulis, saya niat-niatin baca buku lagi, baca jurnal lagi (ini beneran, serius!) dan pas gajian kemaren akhirnya saya melakukan hal yang udah hampir 6 bulan gak saya lakukan: Belanja Buku! Ya ampun, walaupun ujung-ujungnya yang dibeli tetap banyakan komik daripada novel atau buku pelajaran (oh yes I still read my college books, trust me), tapi rasanya saya senang banget. Rasanya kayak menemukan pacar lama yang saya pikir udah hilang di pedalaman Kenya (oke ini lebay). 

Di salah satu komik yang saya beli kemarin itu, ada satu scene dimana salah satu tokoh bilang, “Kalau kenyataan tak bisa diapa-apakan, keluarkan semua isi kepala untuk melakukan sesuatu! Itu baru yang namanya berpikir!”

Biar ceritanya sekalian, saya mau cerita lagi kalau hari ini saya dapat “petuah” dari abang ojek online. Sebagai pengguna setia ojek online, saya sebenernya agak sering sih ngobrol sama mereka, terutama kalau lagi mood saya bagus. Hari ini kebetulan mood saya butut mirip oplet Si Doel plus hidung mampet, jd agak malas menanggapi abang ojek online yang ajak saya ngobrol. Abang ojeknya cerita kalau Beliau sudah cukup lama jadi tukang ojek, dulu mangkalnya di sekitar Halim dan UKI. Beliau cerita kalau Beliau gak pernah nolak pelanggan yang mau naik ojeknya, sejauh apapun dan bahkan gak pernah mematok tarif untuk pelanggan. Meski saya hanya iya-iya aja sepanjang jalan (sambil slendap slendup nahan ingus), si abang tetap cerita kalau Beliau pernah bawa pelanggan ke Bantar Gebang dengan ongkos hanya 30 ribuan saja. Pas saya tanya apakah gak terlalu jauh buat Beliau yang daerah aslinya di Manggarai, Beliau bilang kalau Beliau niatnya mau nolong orang, dan ridho serta keikhlasan pelanggan adalah tujuan utama. Beliau bilang, “Kalau mau diturutin aja (malasnya), ya kapan mau maju, kapan dapat uang. Yang penting adalah gimana cara kita menikmatinya.”

Well, dua kalimat ini agak menohok, terutama bagi saya yang cukup hobi mengutuk kenyataan. Saya dulu sempat putus asa dengan kondisi kerjaan yang “yah sudahlah pokoknya sedih kalau diceritakan”, dan bilang kalau orang-orang yang berbaik hati mencoba menghibur sebagai “pembohong” (hell yeah I’ve ever been that evil) karena mereka gak tau apa yang saya rasakan. Meskipun sekarang kondisi pekerjaan sudah lebih baik dan sepertinya mengarah pada kebaikan berkelanjutan, saya terkadang masih suka stress sendiri dan rasanya pingin ngasah golok ke orang-orang yang gak paham sama kerjaannya. Mendengar (dan membaca, karena yang satu lagi ada di komik) dua kalimat itu secara berturut-turut kok kayak Tuhan lagi kasih hidayah ke saya.

Kita kadang lupa, bahwa setiap kondisi yang kita hadapi, kenyataan yang kita terima saat ini adalah konsekuensi dari semua pilihan hidup yang kita buat (atau yang orang lain buat tapi berdampak pada kita) di masa lalu. Hidup penuh pilihan, dan bahkan untuk hidup pun adalah sebuah pilihan. Perkara yang lebih besar adalah apakah kita bersedia memanggul akibat dari pilihan-pilihan yang kita buat. Hidup ini gak melulu langit biru, matahari bersinar cerah dan pelangi melengkung sempurna di cakrawala, dan kita bisa ongkang-ongkang kaki sambil makan cake. Hidup yang seindah hari-hari di serial Teletubbies gak akan pernah membuat kita kuat menghadapi semua tantangan. Kita juga gak akan tau apakah pilihan-pilihan kita akan mendatangkan hari-hari Teletubbies atau malah mendatangkan badai. Menerima konsekuensi dari pilihan kita adalah hal yang paling logis yang kita punya.

Terus gimana dong kalau udah kepepet banget? Kalau ternyata pilihan hidup yang kita ambil malah membuat kita mentok di jalan buntu, dengan singa yang siap menerkam di depan mata? Waktu kita masih duduk di SD, pake seragam putih merah dengan rambut dikuncir dua unyu-unyu gitu, kita kan diajarkan bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Jadi, akan ada pilihan baru bagi kita, berusaha mencari jalan keluar dari masalah, atau beradaptasi karena ternyata keluar dari masalah justru akan berdampak jauh lebih buruk bagi kita. Yah, mati tetap jadi pilihan untuk keluar dari masalah sih, tapi mosok iya saya nulis capek-capek cuma buat nyuruh sampeyan mati? Kita bisa memilih untuk memeras seluruh kemampuan berpikir kita untuk menemukan jalan keluar, seperti yang dibilang sama tokoh komik saya tadi, atau memilih beradaptasi dan menjalani semuanya dengan ikhlas seperti abang ojek online saya. Both way, percayalah, kita semua didesain oleh Yang Mahakuasa dengan kemampuan tersebut. Banyak-banyaklah baca buku, berkumpul dengan orang-orang cerdas (di bidangnya), atau lakukan apapun yang kita bisa untuk memperbanyak pilihan yang kita punya.

So after all, life is all about how to learn to dance in the rain, ‘kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s