Sore Ini Aku Bertemu Seorang Nenek Tua

Sore ini aku bertemu seorang nenek tua di persimpangan jalan
Langkahku sudah terlalu berat untuk menghindarinya
Tubuhku lusuh penuh debu, hasil berjibaku dengan kejamnya dunia
Dan dia duduk di sebelahku, menawarkan sepotong roti padahal aku melihat desir kelaparan di matanya

Sore ini aku bertemu seorang nenek tua di persimpangan jalan
Sudah terlalu tua dia untuk melakukan macam-macam
Sudah terlalu kenyang dia dengan rasa kehidupan
Dan dia bercerita tentang sekelumit kelompok manusia nan rumit

Dia bercerita bagaimana waktu berjalan dengan roda besi yang menghujam tanah
Bagaimana jalanan telah dilalui dari orang terhormat seperti pejabat negara
Sampai kaki-kaki kecil yang naik turun bis kota sambil menjual suara.
Jalanan itu telah jadi saksi sejarah, katanya.

Dia bilang dia menyaksikan setiap tragedi yang mengiringi negeri ini
Setiap tragedi terus berulang tanpa henti, terus berulang dan terus berulang
Rezim berganti tapi tragedi berulang seperti putaran rol film hitam putih
“Tapi negeri ini belum berubah, anakku,” katanya. “Rakyat masih kelaparan.”

Sementara di belakangku kudengar deru waktu yang kian meninggalkanku
Senja semakin memerah dan kuyakin setiap waktu malam bisa menelanku
Namun nenek tua itu masih terus bercerita tanpa henti
Menjebakku dalam dosa penyia-nyiaan waktu

Dan pada suatu titik aku bertanya padanya
Wahai nenek,

Mengapa masih terpaku disini sementara armada burung nazar bersiap menerjangmu?
Mengapa masih diam disini sementara terompet sangkakala terus bernyanyi?
Tidakkah kau dengar denting dawai harpa sang Malaikat Kematian di belakangmu?
Ataukah semua hanya perasaanku saja?

Dan dia diam sambil tersenyum padaku. Dia berkata,
“Anakku, aku takkan menghindari terjangan armada nazar dan gagak
Aku masih mendengar sangkakala sang waktu dan dawai Izrail yang merdu
Tapi kematian mengejarku,
Tak peduli kemanapun aku lari dia akan mendapatkanku.”

Dia terbatuk, tapi dia lanjutkan kalimatnya,
“Anakku, aku sudah melihat begitu banyak kematian.
Tak ada yang bisa menghindar darinya, dan dia merenggut setiap nyawa.
Aku melihat kematian menjemput para pendosa dengan kukunya yang hitam.
Aku melihat kematian menyapu jiwa suci sang beriman dengan gemulai.”

Dan aku menoleh ke belakangku.
Armada nazar dan gagak menutup langit dengan bentang sayap hitamnya bak asap tebal
Koar suara mereka seperti serenada orkestra di tengah melodi dawai Izrail
Di kejauhan setiap nyawa mulai beterbangan seperti anai-anai tertiup badai
Cahaya jiwa mereka beberapa bersinar, beberapa meredup seperti kena jelaga

Aku memejamkan mataku dan merasakan jari keriput sang nenek menyentuhku
Aku berkata, “Nenek yang baik, sungguh apa yang kau katakan adalah benar,
Sungguh tak ada satupun nyawa yang bisa menghindar dari sang kematian.
Dan semua koar nazar, melodi Izrail dan sangkakala waktu adalah orkestra ciptaanku.”

“Sungguh aku kemari untuk menjemputmu yang baik hati.
Aku kemari untuk merengkuh jiwamu yang menyinari langit dan bumi.
Aku datang untuk menjemput jiwa yang telah menolong banyak mahasiswa penuntut keadilan lapar saat setiap tragedi berulang meski perutnya sendiripun kosong tak terisi.
Aku datang menjemput jiwa yang menangis untuk setiap anjing kelaparan.”

“Sungguh kematian itu menyakitkan, wahai nenek baik hati,
Tapi rengkuh sayapku kuharap akan mengurangi setiap kesakitanmu.
Biarlah di dunia tak ada yang mengasihi jiwamu yang sebatang kara
Biarlah setiap malaikat menyambutmu disana, di tempat yang kami janjikan untukmu.”

“Marilah, nenek tua persimpangan jalan yang baik hati.
Marilah ikut denganku meninggalkan kesemrawutan ini.”

(BumiAllah, Mei 2014)