You Can‘t Lose what You Never Had

Meletakkan ke-aku-an adalah sebuah ide yang sangat buruk.

Kenapa?

Gampangnya gini. Perhatikan dua kalimat ini:

Ponsel rusak karena terjatuh di genangan air siang tadi.

Bedakan dengan:

Ponsel saya rusak karena terjatuh di genangan air siang tadi.

Mana yang rasanya lebih menyakitkan? Kalimat kedua, ‘kan? Rasanya pediiihh banget kalo ponsel kesayangan jatuh di kubangan air dan rusak. Pasti kita akan langsung menyalahkan pemerintah yang gak becus betulin jalan sehingga menyebabkan genangan air ketika hujan. Kita lupa, padahal kita yang jalanya sembarangan sambil tetap asyik mainan ponsel.

Meletakkan ke-aku-an berarti menyematkan kepemilikan pada sesuatu, entah makhluk hidup atau bukan. Dengan tidak sadar, meletakkan kepemilikan pada sesuatu berarti memindahkan sebagian hati dan perasaan kita pada sesuatu tersebut. Kalimat “kucing mati” sekali lagi gak memberikan dampak psikologis apapun pada kita ketimbang kalimat “kucing saya mati” (gw pernah nangis bombay dua hari gegara kucing gw mati, padahal gw adalah orang yang masih bisa ngopi-ngopi ama temen waktu putus ama pacar). Gw memindahkan sebagian hati gw ke kucing gw, sehingga ketika dy mati, gw juga merasa sebagian hati gw mati bersamanya. *tsah bahasa gw kan*

Menyematkan kepemilikan juga berarti menghargakan sesuatu. Kita melabeli sesuatu dengan invisible pricetag terhadap sesuatu tersebut, sesuai dengan tingkat kecintaan kita padanya. Kalo kalian cinta uang, kalimat “uang saya digondol rampok” pasti lebih berdampak psikologis ketimbang “uang digondol rampok”, karena kalian sangat cinta pada uang kalian tersebut, sehingga ketika uang tersebut dirampok, kalian merasa ada sebagian jiwa kalian yang tercerabut keluar dari tubuh kalian. *backsound lagu Anang-Separuh Jiwaku Pergi*

Intinya sih kita seharusnya sadar, bahwa kayak kata lagu Peterpan (waktu itu blom ganti jadi Noah), Tak Ada yang Abadi, segala sesuatu di dunia ini memang gak ada yang abadi. Semua akan berubah, semua akan hilang dan semua akan berganti. Klise sih emang, tapi pernahkah kalian mikir kalo semua pertemuan dan kehilangan adalah sebuah siklus, yang terus akan berulang sepanjang hidup kita?

Kita kehilangan teman pasti karena akan ada orang baru yang mengisi kehidupan kita. Kita kehilangan pacar karena memang akan ada pasangan baru yang lebih melengkapi hidup kita. Gak ada efek instan sih, dan kita emang harus lewatin pahit-pahitnya dulu, tapi mendung kan gak selamanya kelabu dan badai pasti berlalu (tua amat ya lagu gw), jadi semua akan indah pada waktunya.

Satu hal lagi yang harus kita sadari adalah bahwa semua milik kita bukanlah milik kita. Agama bilang sih kalo semua milik kita adalah titipan Tuhan, tapi penjelasan logisnya adalah bahwa semua yang datang dan pergi dalam kehidupan kita mengikuti siklus kehidupan. Mereka semua gak pernah jadi milik kita sepenuhnya. So kalau kita merasa kehilangan, harusnya kita sadar, buat apa merasa sedih? Toh sejak awal, sesuatu itu memang bukan milik kita. Kitalah yang kemudian melabelinya sebagai milik kita.

Intinya hanyalah kita harus ikhlas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s