Sonata Rembulan

-Written for the draft of The Romance of The Moon

[1]

Ketika aku terpaku sendiri disini, di luar sana sang Rembulan masih setia menghangatkan jiwamu. Dan di tengah patrian cahaya nan pias darinya, aku bertanya pada hatiku, untuk apa aku bertahan disini? Seonggokan sampah yang masih berani berhadapan dengan mantan tuannya takkan memberikan sejuta makna pada malam di kala sang Rembulan masih bertahta.

[2]

Kucoba mengisi tintaku dan mencurahkan segenap kepahitan jiwaku yang sekian lama terbelenggu dalam penjara hatimu. Namun otakku tak pernah terisi selain daripada elegi dan satir kerinduan tak terungkapkan kepadamu. Elegi yang tak pernah sempat meninggalkanku setiap pagi kujelang sang Surya dan Rembulan kembali ke peraduannya.

[3]

Kudekap sepiku sendiri dan menerima takdir yang tertulis di batas cakrawala. Kucoba bernapas panjang tetapi kusadari paru-paruku tak mampu lagi menampung udara lebih banyak. Aku tak pernah ingin menyerah, meski yang kuhirup hanyalah dan lagi-lagi hanyalah sesak. Sesak, sesak dan sesak berkepanjangan.

[4]

Kulontarkan lagi bandul waktu dan kubalik jam pasirku untuk berusaha membuka kembali relung hatiku yang kini terkunci rapat olehmu. Aku hanya ingin mengecap kebahagiaan sedikit saja tanpa merisaukan deraan cahaya Rembulan selayak pedang di kulitku. Cahaya yang telah berubah menjadi sayatan api seiring pagi yang terjelang dan membakar habis rajutan kasih kita.

[5]

Kuulurkan jari lemahku dan mencoba meraba hembusan angin yang menyejukkan kegersangan ladang ini. Bagiku angin selalu melambangkan dirimu. Kucoba paksakan senyum pada titik terlemahku kala kulihat fajar mulai memerah di cakrawala timur dan memerahkan langit selayak hatiku. Rembulan akan tergantikan lagi dan Tuhan seolah berkata, “Ini bukanlah fajar dalam pagi penuh impian. Ini adalah fajar penghabisan.”

[6]

Aku masih disini sementara jejak waktu terasa semakin meninggalkanku. Aku masih berupaya setia dan dengan kedunguanku masih berharap Rembulan akan kembali berbaik hati mendatangiku dengan keramahannya. Orang boleh menganggapku dungu karena mereka melihatku menggapai harapan hampa pada Rembulan yang telah menyiksaku tanpa belas kasih dan membuyarkan semua mimpiku yang kosong ditinggalkan bayangmu.

[7]

Namun mereka keliru. Aku tak menggapai harapan hampa ataupun mimpi kosong setelah kau beranjak tanpa pesan. Aku menunggu Rembulan memanggil pasang sang samudera untuk mengaliri jiwa kerontangku yang dahaga semenjak sungai cintamu mengering. Aku menunggu Rembulan menerangi relung jiwaku yang pernah dialiri riak airmata darahmu. Aku menanti Rembulan menghangatkan jiwaku di tengah deraan selaksa perih.

[8]

Aku tak berdaya. Terantai dalam dominasi tak terpatahkan sementara kau dengan segala daya berusaha menghentikan desiran pasir waktu. Kau berupaya menerbangkannya karena kau adalah angin dan pasir itu telah menjejak luka dalam setiap jengkal kesetiaanmu. Dari penjara ini aku bahkan bisa mendengar rintihanmu yang mengemis agar Rembulan mau menepikan nestapa ini barang sejenak saja.

[9]

Dan di tengah ritual pengorbanan ini, aku meniti kembali doa yang pernah kuhujat. Kumohon agar Rembulan mampu mendatangkan kejaiaban untuk kita berdua. Agar Rembulan mampu menjagakan kita dari mimpi buruk ini dan menerangi kelam malam kita dengan cahayanya nan pias. Agar sedikit saja mampu kita menempuhi badai di samudera beriak ganas tanpa sejenak pun melempar sauh.

[10]

Ketika kau bertanya apakah waktu akan menyalakan kembali api cinta yang membangkitkan asa dirimu, aku menjawab seandainya saja terminologi waktu masih ada untukku. Ketika kau bertanya mungkinkah kita mampu memerdekakan diri dari dominasi ini dengan kunci yang pernah kita temukan, kukatakan bahwa aku telah mematahkan kunci itu. Ketika kau bertanya mengapa, aku menjawab untuk apa.

[11]

Kekasihku, catatan kita mengenai sonata sang Rembulan hampir menjelang penghabisan. Jika kau bersikeras untuk mempertahankan benteng keindahan itu dengan panah, tombak dan pecut keniscayaan, aku akan mengatakan itulah kiranya kebanggaan kita yang terakhir. Dayaku sudah habis karena sang Rembulan tak lagi bertahta di relung kita yang terdalam.

[12]

Di ujung daya ini, izinkan kukatakan aku ingin kau tahu kalau tinta emasku takkan pernah mengering. Tinta emas yang tak pernah berhenti menggoreskan namamu. Tinta emasku selalu terisi oleh airmata dan darahku yang tiada pernah kerontang di gurun jiwamu. Aku sudah tak lagi peduli berapa bulir airmata yang kubuang untuk terus berusaha menggoreskan namamu.

[13]

Kau. Angin.
Aku ingin kau tahu bahwa aku menikmati setiap malam tak bergemintang dimana sang Rembulan meraja dan kau menghembusi setiap nyala gairah hidupku. Aku tak ingin mengingkari keberadaanmu di setiap udara yang kuhela dan menerbangkan mimpi-mimpi kita ke buaian langit tertinggi.

[14]

Dan kini Rembulan telah mengakhiri sonatanya. Aku tak ingin pernah tahu apakah kata-kata ini mampu mengetuk pintu hatimu. Dayaku benar-benar lantak dan danau airmataku sudah mengering. Duka atas kerinduan ini telah mematikan seluruh inderaku dan merantaiku di dermaga kosong untuk terus menantimu melepaskanku dari belenggu ini. Aku yang menunggumu. Dan selamanya mencintaimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s