Kutu Loncat: Bad or Not?

Finally. Ngutang 4 tulisan ini. Mudah-mudahan bisa dikebut!! Haha… *deadliner sejati*

Pernah gak kalian merasa bosan ama rutinitas kalian yang sekarang? Beberapa hari penuh gempuran tugas, dari PR, paper, makalah sampai presentasi dan kuis bikin gw akhir-akhir ini agak bosen dengan rutinitas gw sebagai mahasiswa. Belum lagi masalah UTS dan proposal tesis yang harus di-submit di pertengahan April.

Eniwei, daripada curhatan gw yang panjang lebar tentang kuliah gw, sekali lagi gw tanya, apakah kalian pernah merasa bosan ama rutinitas sekarang? Ya dengan jalanan yang makin macet dan harga-harga yang makin tinggi jelang pemilu, wajar sih betapa menyenangkannya pekerjaan kalian, kalian akan tetap merasa bosan. Apalagi ditambah dengan stereotype yang melekat di generasi Y bahwa kita adalah generasi bosenan, gampang beralih dari satu hal ke hal lain dan dicap sebagai “si kutu loncat”.

Gw sendiri, gak menganggap anggapan “kutu loncat” ini sebagai sesuatu yang buruk sepenuhnya. Loyalitas pada perusahaan memang penting, tapi karyawan tentu saja punya hak untuk mengembangkan dirinya sendiri. Jika dia merasa ada tawaran lain di luar perusahaan yang lebih menggiurkan untuknya, ya dia akan pindah. Menggiurkan disini gak melulu bicara tentang gaji ya. Bisa aja tawaran akan etika kerja yang lebih baik, atau tawaran untuk mengembangkan diri karena di perusahaan yang sekarang, karyawan diperlakukan bak katak dalam tempurung. Diperas tenaganya tapi gak dikasi pelatihan yang bisa menambah skill karyawan.

Alasan lain kenapa gw gak sepenuhnya menganggap ide “kutu loncat” ini buruk adalah, bahwa dengan tidak terlalu lama berada dalam satu perusahaan, karyawan bisa lebih kreatif, dan inisiatif. Sebagai contoh, orang yang sering gonta ganti pacar pasti lebih memahami lawan jenis¬†ketimbang yang pacaran dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, ‘kan? Haha. Contoh lain, kenapa auditor eksternal di perusahaan harus dirotasi setiap lima tahun? Karena kalo kelamaan mengaudit perusahaan, si auditor jadi kehilangan sensitivitasnya, dan jadi terlalu akrab dengan manajer, sehingga bisa jadi ia kehilangan independensinya.

Nah, ini alasan utama gw kenapa gw anggap “kutu loncat” gak selamanya buruk. Seringnya seseorang pindah lingkungan, baik kerja maupun rumah, membentuk kepribadian seseorang jadi lebih volatile. Artinya, dia bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan manapun yang dia tempati. Volatilitas ini kadang diperlukan loh, dalam kerja yang sebagian besar berfokus pada teamwork. Soalnya, kalo kalian gak bisa kompak dan membaur dengan anggota tim yang lain, proyek yang kalian kerjakan dijamin gak bakal sukses.

Kerja di tempat yang sama bertahun-tahun juga gw anggep demikian. Misalnya, kerja jadi PNS selama bertahun-tahun membentuk mindset dan kebiasaan bahwa PNS itu santai, egois, kalo bukan kerjaan gw ya ngapain gw repot-repot, semua duit anggaran harus dicari celah biar bisa ditilep dan lain sebagainya. Begitu si PNS ini dapet bos baru yang cekatan, suka sidak sembarangan, segala sesuatu harus cepet, semua kelabakan. Dan ujung-ujungnya, membenci si bos baru. Padahal, dia sendiri yang udah lembam, susah bergerak karena berada dalam zona nyaman.

Seperti yang dibilang orang, berada dalam zona nyaman justru mematikan. Hidup berada di luar zona nyaman Anda, begitu katanya. Maka, ketika bicara mengenai si “kutu loncat”, kalian sekarang bisa bilang kalo si “kutu loncat” ini menikmati hidup, karena selalu keluar dari zona nyamannya. Hehe.

Jadi, demikian. Jangan selalu menganggap menjadi “kutu loncat” itu buruk. Salah satu dosen gw pernah cerita, membandingkan dirinya dengan salah seorang temannya. Dosen gw itu adalah orang yang lama bertahan di suatu perusahaan, sampe jadi CEO segala, sementara temannya, adalah seorang “kutu loncat”. Pak dosen bilang bahwa disaat gajinya dia udah gede banget, si temen hidupnya gitu-gitu aja dan pak dosen pun menyatakan itu akibat kesalahannya sendiri menjadi “kutu loncat”. Buat gw, pernyataan ini gak bisa dibenarkan seluruhnya. Sekali lagi, jadi “kutu loncat” gak selalu buruk karena justru memicu kreativitas seseorang. Pak dosen mungkin lupa, kalo kebahagiaan seseorang gak cuma dipicu dari gaji doang, tapi juga tentang pengembangan diri dan kenyamanan. Ya mungkin aja pak dosen bergaji gede tapi lembur melulu dan pusing mikirin stratejik perusahaan tiap hari, tapi si temen bisa santai, pulang ke rumah ontime dan punya quality time sama keluarganya. Well, money cannot buy everything, ‘kan?

Artikel ini cuma pendapat gw doang. Gw gak menyalahkan kalian yang “kutu loncat”, tapi juga meminta kalian untuk mempertimbangkan matang alasan dibalik kepindahan kalian.

Ato mungkin ini cuma alasan gw aja untuk pindah kerja. Haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s