Does Having Choice Make Us Happy?

Ada penelitian menyatakan bahwa orang sekarang lebih gak bahagia dibanding orang dulu. Kalian percaya?

Tulisan ini sedikit banyak akan bercerita tentang hasil temuan Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice. Kalian bisa liat wikinya disini. Schwartz sendiri dalam bukunya tersebut menulis:

Autonomy and Freedom of choice are critical to our well being, and choice is critical to freedom and autonomy. Nonetheless, though modern Americans have more choice than any group of people ever has before, and thus, presumably, more freedom and autonomy, we don’t seem to be benefiting from it psychologically. —quoted from Ch.5, The Paradox of Choice, 2004

Gampangnya gini. Orang jaman sekarang, kita-kita ini, kan udah punya banyak pilihan dan bahkan punya kemerdekaan untuk memilih, yang dijamin di UUD 1945. Hehe. Contoh gampangnya, kalian pergi ke minimarket terdekat, mau beli shampoo. Begitu sampe dan berhadapan dengan rak shampoo, kalian bingung, mau beli shampoo merek apa, varian apa, yang ukurannya berapa, pake kondisioner atau yang kondisionernya terpisah, dan lain sebagainya. Bahkan gw, yang menganggap diri gw punya loyalitas merek yang tinggi, masih bingung jika dihadapkan pada pilihan macam ini. Gw akan mempertimbangkan antara lain, bagaimana kondisi kondisi rambut gw sekarang, mana yang paling pengen gw beresin dari kondisi rambut gw, mana varian shampoo yang paling cocok dengan masalah rambut gw, dan liat kondisi keuangan. Itu baru shampoo. Belom kalo gw dateng ke hipermarket dengan list belanja rumah tangga yang seabrek. Bisa tiga jam sendiri gw keliling-keliling hipermarket, mikirin semua kondisi dan pilihan yang gw punya.

Nah kenapa dengan segitu berlimpahnya pilihan kita justru makin menderita? Consider this. Bokap nyokap gw dulu kalo nonton TV cuma ada TVRI, pas jaman gw mulailah ada RCTI dan kawan-kawan, bahkan mulai bisa pasang TV kabel. Bokap nyokap gw girang dengan satu stasiun TV, sementara gw dan adek-adek gw harus rebutan nonton kalo misalnya di Jumat malem, gw pengen nonton Face Off di BeTV sementara adek-adek gw pengen nonton Indonesian Idol. Kebanyakan pilihan justru membuat utilitas kalian akan barang merendah. Semakin banyak kalian punya suatu barang, kalian akan mem-value barang itu rendah. Sebaliknya, semakin sedikit barangnya, kalian akan menggapnya semakin mahal. Ini menjelaskan kenapa harga tas Hermes Birkin mahal banget. Ya itu tadi, limited edition, sehingga yang punya pun pasti kalangan tertentu aja.

Trus gimana dengan pemilu sekarang? Kan jumlah partai juga banyak, calon presiden banyak? Nah itu juga salah satu yang bikin gak bahagia. Kalian kan bakal milih salah satu kandidat presiden. Nah begitu dia kepilih, kalian kan committed to him, ‘kan? Mau dia sediktator Suharto atau se-meaningless SBY, tetep aja kalian harus anggap dia presiden kita. Nah komitmen ini juga yang bikin gak bahagia. Kalo kaitannya ama produk, begitu gak memuaskan, kalian bisa buang dan kalian beralih ke produk lain. Tapi begitu ngomong soal presiden, kalian cuma punya dua pilihan: kalian meninggalkan Indonesia atau kalian demo sampe dia turun kayak Suharto.

Hal ketiga yang bikin kita makin gak bahagia karena punya banyak pilihan adalah kesempatan yang hilang. Misalnya kalian mau beli HP di Roxy. Setelah keliling Roxy, kalian nemu satu toko yang jual harga HP paling murah. Kalian beli HP disana. Sambil jalan pulang, taunya kalian menemukan ada satu toko lain, yang nyempil banget dan jual HP kalian dengan harga yang jauh lebih murah dari toko tadi. Kalian pasti nyesel banget kan, kenapa kalian gak beli HP di toko nyempil itu? Nah, kesempatan yang hilang untuk mendapatkan HP yang lebih murah inilah yang bikin kalian lebih gak bahagia. Apalagi kalo sampe di rumah nanti kalian masih kebayang-bayang kenapa kalian beli HP di tempat yang tadi dan bukan di toko yang nyempil itu?

Demikianlah. Punya banyak pilihan gak selalu baik, dan malah lebih banyak buruknya. Banyak pilihan justru bikin kalian bingung mau milih yang mana, dan apakah kalian siap dengan konsekuensi bahwa pilihan kalian ternyata bukanlah pilihan terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s