Gayatri Rajapatni, Woman Behind History of Majapahit

Di akhir hari. Hampir lupa nulis buat hari kedua ini.

Well. Kalo boleh jujur, gw mungkin punya sense feminisme jauh di dalam diri yang kadang gak terlalu suka gw ungkapin ke orang lain. Di Indonesia, feminisme masih cukup jarang. Posisi perempuan, meski udah diperjuangkan oleh Kartini dan kawan-kawan, kadang masih dianggap kaum kelas dua dibanding kompatriotnya, para lelaki. Buktinya? Karena gw orang ekonomi, gw bisa dengan mudah berdalih bahwa bahkan dalam anggaran pemerintah, keberpihakan pada perempuan kecil banget. Misalnya, belum ada kantor pemerintah yang bikin ruang khusus menyusui yang amat sangat layak atau juga memberi cuti khusus perempuan yang sedang menderita akibat PMS atau menstruasi hari pertama.

Sense of feminism itu bikin gw kagum ama sosok perempuan-perempuan yang rela susah payah untuk, let’s say, minimal memperjuangkan nasibnya atau malah memperjuangkan nasib bangsanya. Dan karena gw sangat suka sama sejarah, gw sering baca tuh, profil ratu-ratu bangsa lain. Dari sini gw berpikir kenapa gak banyak profil tentang ratu-ratu jaman kerajaan Indonesia kuno dulu? Padahal gw yakin banget bahwa peranan mereka, pastinya, gak kalah penting dari peranan suaminya, para Prabu-Prabu itu (bukan Prabu Revolusi sang penyiar tv itu ya…)

Salah satu ratu paling gw kagumi adalah Gayatri Rajapatni, salah satu istri Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit, dan ibu dari Tribhuwana Tunggadewi, ratu Majapahit. Gayatri adalah putri termuda dari Kertanegara, raja Singhasari yang paling ngetop. Gayatri digambarkan sebagai putri muda yang cantik, cerdas di bidang literatur, sosial politik dan keagamaan.

Tahun 1292, Singhasari diserang sama Jayakatwang, Adipati Gelang-Gelang (sekarang sih katanya ada di sekitar Kediri). Istananya dibakar, tapi Gayatri berhasil kabur dan lolos berkat nyamar jadi pelayan. Kakak tertuanya, Tribhuwanareswari, juga berhasil kabur ke tempat suaminya, Raden Wijaya. Sementara dua kakaknya yang lain, Prajnaparamita dan Narendra Duhita, disandera di Kediri.

Selama setahun, Gayatri terus nyamar jadi pelayan, hingga di tahun 1293, Raden Wijaya menyerang Jayakatwang dan menyelamatkan Gayatri dan ketiga kakaknya. Di tahun yang sama, Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dan mengambil ketiga putri itu, termasuk Gayatri, jadi istrinya.

Gayatri sendiri kemudian jadi salah satu dari lima istri Raden Wijaya, tapi cuma dia dan putri Melayu Dara Petak yang ngasih anak ke Raden Wijaya. Kakak tertuanya, Tribhuwanareswari, kayaknya mandul, sementara dua kakaknya yang lain, si Prajnaparamita dan Narendra Duhita, mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma waktu diculik Jayakatwang dulu. Dara Petak melahirkan satu-satunya anak lelaki Raden Wijaya, Jayanegara, sementara Gayatri melahirkan dua anak perempuan, Tribhuwana Tunggadewi dan Rajadewi Maharajasa. Again, banyak orang yang bilang kalo Gayatri adalah istri favorit Raden Wijaya, makanya dinamain Rajapatni (artinya pendamping raja), dan kebersamaan mereka disamain ama kebersamaan Dewa Siwa dan Parwati.

Selama pemerintahan Jayanegara, Gayatri bertindak selaku Ibu Suri (gw gak berhasil dapet info apa yang terjadi sama si Dara Petak sehingga akhirnya Gayatri yang jadi Ibu Suri), dan bertindak sebagai ibu pemimpin keluarga (matriarch) di keraton Majapahit. Disini alasan kenapa gw suka ama Gayatri. Instead of kelakuan Jayanegara yang aneh (dan katanya hedonis), Gayatri tetep memantau orang-orang yang dia anggep capable untuk duduk di posisi-posisi penting di Majapahit. Salah dua dari orang-orang yang dianggepnya penting itu adalah Adityawarman, panglima Majapahit, dan Gajah Mada.

Beberapa sumber yang gw baca juga bilang kalo Gayatri berada di balik pembunuhan terhadap Jayanegara oleh Ra Tanca (kalo di film sih dibunuh pas lagi operasi bisul. Hahaha… Ra Tanca katanya marah karena pacarnya diambil ama Jayanegara buat dijadiin selir), demi memuluskan jalan Tribhuwana Tunggadewi ke puncak kekuasaan. Gw gak tahu pasti, tapi melihat Jayanegara yang immoral dan punya bad behavior (that’s why dia dipanggil Kala Gemet, yang artinya “weak villain”), gw gak heran sih kenapa Gayatri pengen banget menyingkirkan prabu yang aneh ini, haha…

Meninggalnya Jayanegara bikin orang-orang mikir kalo Gayatri adalah orang yang pantes buat duduk di tahta, secara cuma dia tokoh senior Majapahit yang masih idup. Sayangnya, Gayatri udah keburu jadi Bhiksuni, dan akhirnya menunjuk putri sulungnya, Tribhuwana Tunggadewi, untuk duduk di tahta. Saat pemerintahan Tribhuwana pula, Gayatri merekomendasikan Adityawarman dan Gajah Mada.

Dari cerita diatas, Gayatri jelas tokoh penting di awal sejarah kerajaan paling kinclong dalam sejarah Indonesia itu. Sayangnya, gak banyak literatur yang nulis tentang kehebatan peran sang ratu, yang kebanyakan ketutup dengan kiprah suaminya, Raden Wijaya, atau keturunannya, Tribhuwana Tunggadewi dan later, Hayam Wuruk, atau kiprah orang yang dipromosikannya, Gajah Mada dan Adityawarman. Satu-satunya buku yang mengungkap peran penting Gayatri dalam trah Majapahit adalah bukunya Earl Drake, Gayatri Rajapatni, yang untuk nyarinya aja kudu setengah modar di Gramedia.

Oke. Sampai jumpa besok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s