You Can‘t Lose what You Never Had

Meletakkan ke-aku-an adalah sebuah ide yang sangat buruk.

Kenapa?

Gampangnya gini. Perhatikan dua kalimat ini:

Ponsel rusak karena terjatuh di genangan air siang tadi.

Bedakan dengan:

Ponsel saya rusak karena terjatuh di genangan air siang tadi.

Mana yang rasanya lebih menyakitkan? Kalimat kedua, ‘kan? Rasanya pediiihh banget kalo ponsel kesayangan jatuh di kubangan air dan rusak. Pasti kita akan langsung menyalahkan pemerintah yang gak becus betulin jalan sehingga menyebabkan genangan air ketika hujan. Kita lupa, padahal kita yang jalanya sembarangan sambil tetap asyik mainan ponsel.

Meletakkan ke-aku-an berarti menyematkan kepemilikan pada sesuatu, entah makhluk hidup atau bukan. Dengan tidak sadar, meletakkan kepemilikan pada sesuatu berarti memindahkan sebagian hati dan perasaan kita pada sesuatu tersebut. Kalimat “kucing mati” sekali lagi gak memberikan dampak psikologis apapun pada kita ketimbang kalimat “kucing saya mati” (gw pernah nangis bombay dua hari gegara kucing gw mati, padahal gw adalah orang yang masih bisa ngopi-ngopi ama temen waktu putus ama pacar). Gw memindahkan sebagian hati gw ke kucing gw, sehingga ketika dy mati, gw juga merasa sebagian hati gw mati bersamanya. *tsah bahasa gw kan*

Menyematkan kepemilikan juga berarti menghargakan sesuatu. Kita melabeli sesuatu dengan invisible pricetag terhadap sesuatu tersebut, sesuai dengan tingkat kecintaan kita padanya. Kalo kalian cinta uang, kalimat “uang saya digondol rampok” pasti lebih berdampak psikologis ketimbang “uang digondol rampok”, karena kalian sangat cinta pada uang kalian tersebut, sehingga ketika uang tersebut dirampok, kalian merasa ada sebagian jiwa kalian yang tercerabut keluar dari tubuh kalian. *backsound lagu Anang-Separuh Jiwaku Pergi*

Intinya sih kita seharusnya sadar, bahwa kayak kata lagu Peterpan (waktu itu blom ganti jadi Noah), Tak Ada yang Abadi, segala sesuatu di dunia ini memang gak ada yang abadi. Semua akan berubah, semua akan hilang dan semua akan berganti. Klise sih emang, tapi pernahkah kalian mikir kalo semua pertemuan dan kehilangan adalah sebuah siklus, yang terus akan berulang sepanjang hidup kita?

Kita kehilangan teman pasti karena akan ada orang baru yang mengisi kehidupan kita. Kita kehilangan pacar karena memang akan ada pasangan baru yang lebih melengkapi hidup kita. Gak ada efek instan sih, dan kita emang harus lewatin pahit-pahitnya dulu, tapi mendung kan gak selamanya kelabu dan badai pasti berlalu (tua amat ya lagu gw), jadi semua akan indah pada waktunya.

Satu hal lagi yang harus kita sadari adalah bahwa semua milik kita bukanlah milik kita. Agama bilang sih kalo semua milik kita adalah titipan Tuhan, tapi penjelasan logisnya adalah bahwa semua yang datang dan pergi dalam kehidupan kita mengikuti siklus kehidupan. Mereka semua gak pernah jadi milik kita sepenuhnya. So kalau kita merasa kehilangan, harusnya kita sadar, buat apa merasa sedih? Toh sejak awal, sesuatu itu memang bukan milik kita. Kitalah yang kemudian melabelinya sebagai milik kita.

Intinya hanyalah kita harus ikhlas.

Dancing with the Risk

Ini utang tulisan yang terakhir yang harusnya gw tulis kemarin.

Pernah gak kalian bilang, “Ini terlalu berisiko, gw gak mau menjalaninya.” Ato gw sendiri pernah bilang ama si patjar, bahwa hubungan ini terlalu berisiko karena gw sama dia sama-sama punya kendala untuk melangkah lebih jauh. Haha. *kok jadi curhat?*

Eniwei, apa sih yang sebenernya dimaksud dengan risiko? Kalo kalian hobi olahraga yang memacu adrenaline kayak terjun payung atau bungee jumping, risiko apa yang bersedia kalian tanggung? Sama aja dengan hubungan yang berisiko. Lagi-lagi, risiko apa yang bersedia kalian tanggung?

Risiko, bisa diartikan sebagai penyimpangan antara yang terjadi sebenernya sama yang diharapkan. Repotnya lagi, risiko ini uncertain, belom pasti terjadi meskipun potensi terjadinya tetep ada. Misalnya, gw pernah nonton serial Happily Never After yg menceritakan ttg seorang cewek relijius yg pacaran ama eks napi yang pernah dipenjara karena tindak kekerasan. Sewaktu dipenjara, si cewe sering kirim surat ke si napi, semacem konsultasi religi lah. Begitu si napi keluar penjara, dia ngdeketin si cewe, jadi jemaat di gerejanya si cewe n lama-lama mereka deket terus gak lama kemudian memutuskan buat pacaran dan menikah. Gak lama setelah menikah, si napi mulai nunjukin perubahan sikap, dari yang tadinya baik berubah jadi kasar. Si cewe tetep berusaha sabar, berharap si napi cuma lagi capek aja n nanti bakal balik baik lagi. Suatu hari si cewe ditemuin meninggal dengan kepala terpenggal dan si napi menghilang. Polisi nyari si napi dan pada saat ditangkep, semua bukti nunjukin kalo si napi ngebunuh si cewe relijius itu.

Inti ceritanya sih gampang, lo bersedia pacaran n menikah sama seorang eks napi yang pernah ditahan atas tindak kekerasan, ya lo harus siap dengan risiko dia gak sepenuhnya berubah dan bisa aja “penyakit” lamanya kumat dan lo adalah sasaran terbaik buat melampiaskan amarahnya.

Gw sendiri percaya historical events adalah salah satu yang memberikan bukti paling otentik untuk menilai apapun. Bukan hanya siapa, tapi juga apa. Misalnya lagi, kalian biasa pake ponsel merek tertentu yang punya kamera cihuy tapi juga punya epic failure suka susah di-charge. Nah, berdasarkan hal ini, kalian seharusnya udah siap dengan risiko suatu saat si ponsel kesayangan gak bisa di-charge.

Risiko, bukannya gak bisa dikendalikan. Ada banyak cara mengendalikan risiko, makanya sekarang subjek manajemen risiko jadi populer begitu juga dengan pakarnya, Prof. Rhenald Kasali. Haha. Segala macem juga mulai dikaitkan ama risiko, dan kemudian risiko jadi salah satu yang terkait pada hidup kita.

Salah satu cara mengendalikan risiko dikenal dengan nama diversifikasi. Gampangnya, ini kayak prinsip ekonomi, don‘t put all your eggs in one basket. Jangan bergantung pada satu hal aja, kecuali Tuhan tentunya. Kalo lo nabung, jangan nabung di tabungan aja. Kalo banknya kacau kayak bank century gimana? Nabunglah di beberapa bank dan beberapa instrumen investasi lainnya. Ato kalo lo beli gadget, pastiin ada garansinya sehingga kalo rusak, risiko lo kehilangan itu gadget untuk selamanya bisa diminimalkan. Ato kalo punya pacar, jangan satu doang. Minimal prinsip “dimana bumi dipijak, disitu ada gebetan” harus tetep dijunjung, soalnya kalo diputusin kan lo jadi gak galau-galau amat gitu. *ditoyor si patjar*

Yah demikian deh. Pokoknya, risiko itu inevitable. Apapun yang kita lakukan, pasti ada risikonya. Permasalahan yang jauh lebih menarik adalah apakah kita mau deal dengan risiko tersebut atau gak. Soalnya, high risk biasanya high return juga. Semakin tinggi risiko yang ditanggung, semakin besar pengembalian pada kita. Misalnya, kalo kalian suka terjun payung, rasa fulfilled yg kalian rasakan pas berhasil mendarat itu pasti jauh lebih membanggakan ketimbang kalo kalian berhasil menang lomba makan kerupuk sekecamatan, gitu. Haha.

Selamat bermain dengan risiko.

Sonata Rembulan

-Written for the draft of The Romance of The Moon

[1]

Ketika aku terpaku sendiri disini, di luar sana sang Rembulan masih setia menghangatkan jiwamu. Dan di tengah patrian cahaya nan pias darinya, aku bertanya pada hatiku, untuk apa aku bertahan disini? Seonggokan sampah yang masih berani berhadapan dengan mantan tuannya takkan memberikan sejuta makna pada malam di kala sang Rembulan masih bertahta.

[2]

Kucoba mengisi tintaku dan mencurahkan segenap kepahitan jiwaku yang sekian lama terbelenggu dalam penjara hatimu. Namun otakku tak pernah terisi selain daripada elegi dan satir kerinduan tak terungkapkan kepadamu. Elegi yang tak pernah sempat meninggalkanku setiap pagi kujelang sang Surya dan Rembulan kembali ke peraduannya.

[3]

Kudekap sepiku sendiri dan menerima takdir yang tertulis di batas cakrawala. Kucoba bernapas panjang tetapi kusadari paru-paruku tak mampu lagi menampung udara lebih banyak. Aku tak pernah ingin menyerah, meski yang kuhirup hanyalah dan lagi-lagi hanyalah sesak. Sesak, sesak dan sesak berkepanjangan.

[4]

Kulontarkan lagi bandul waktu dan kubalik jam pasirku untuk berusaha membuka kembali relung hatiku yang kini terkunci rapat olehmu. Aku hanya ingin mengecap kebahagiaan sedikit saja tanpa merisaukan deraan cahaya Rembulan selayak pedang di kulitku. Cahaya yang telah berubah menjadi sayatan api seiring pagi yang terjelang dan membakar habis rajutan kasih kita.

[5]

Kuulurkan jari lemahku dan mencoba meraba hembusan angin yang menyejukkan kegersangan ladang ini. Bagiku angin selalu melambangkan dirimu. Kucoba paksakan senyum pada titik terlemahku kala kulihat fajar mulai memerah di cakrawala timur dan memerahkan langit selayak hatiku. Rembulan akan tergantikan lagi dan Tuhan seolah berkata, “Ini bukanlah fajar dalam pagi penuh impian. Ini adalah fajar penghabisan.”

[6]

Aku masih disini sementara jejak waktu terasa semakin meninggalkanku. Aku masih berupaya setia dan dengan kedunguanku masih berharap Rembulan akan kembali berbaik hati mendatangiku dengan keramahannya. Orang boleh menganggapku dungu karena mereka melihatku menggapai harapan hampa pada Rembulan yang telah menyiksaku tanpa belas kasih dan membuyarkan semua mimpiku yang kosong ditinggalkan bayangmu.

[7]

Namun mereka keliru. Aku tak menggapai harapan hampa ataupun mimpi kosong setelah kau beranjak tanpa pesan. Aku menunggu Rembulan memanggil pasang sang samudera untuk mengaliri jiwa kerontangku yang dahaga semenjak sungai cintamu mengering. Aku menunggu Rembulan menerangi relung jiwaku yang pernah dialiri riak airmata darahmu. Aku menanti Rembulan menghangatkan jiwaku di tengah deraan selaksa perih.

[8]

Aku tak berdaya. Terantai dalam dominasi tak terpatahkan sementara kau dengan segala daya berusaha menghentikan desiran pasir waktu. Kau berupaya menerbangkannya karena kau adalah angin dan pasir itu telah menjejak luka dalam setiap jengkal kesetiaanmu. Dari penjara ini aku bahkan bisa mendengar rintihanmu yang mengemis agar Rembulan mau menepikan nestapa ini barang sejenak saja.

[9]

Dan di tengah ritual pengorbanan ini, aku meniti kembali doa yang pernah kuhujat. Kumohon agar Rembulan mampu mendatangkan kejaiaban untuk kita berdua. Agar Rembulan mampu menjagakan kita dari mimpi buruk ini dan menerangi kelam malam kita dengan cahayanya nan pias. Agar sedikit saja mampu kita menempuhi badai di samudera beriak ganas tanpa sejenak pun melempar sauh.

[10]

Ketika kau bertanya apakah waktu akan menyalakan kembali api cinta yang membangkitkan asa dirimu, aku menjawab seandainya saja terminologi waktu masih ada untukku. Ketika kau bertanya mungkinkah kita mampu memerdekakan diri dari dominasi ini dengan kunci yang pernah kita temukan, kukatakan bahwa aku telah mematahkan kunci itu. Ketika kau bertanya mengapa, aku menjawab untuk apa.

[11]

Kekasihku, catatan kita mengenai sonata sang Rembulan hampir menjelang penghabisan. Jika kau bersikeras untuk mempertahankan benteng keindahan itu dengan panah, tombak dan pecut keniscayaan, aku akan mengatakan itulah kiranya kebanggaan kita yang terakhir. Dayaku sudah habis karena sang Rembulan tak lagi bertahta di relung kita yang terdalam.

[12]

Di ujung daya ini, izinkan kukatakan aku ingin kau tahu kalau tinta emasku takkan pernah mengering. Tinta emas yang tak pernah berhenti menggoreskan namamu. Tinta emasku selalu terisi oleh airmata dan darahku yang tiada pernah kerontang di gurun jiwamu. Aku sudah tak lagi peduli berapa bulir airmata yang kubuang untuk terus berusaha menggoreskan namamu.

[13]

Kau. Angin.
Aku ingin kau tahu bahwa aku menikmati setiap malam tak bergemintang dimana sang Rembulan meraja dan kau menghembusi setiap nyala gairah hidupku. Aku tak ingin mengingkari keberadaanmu di setiap udara yang kuhela dan menerbangkan mimpi-mimpi kita ke buaian langit tertinggi.

[14]

Dan kini Rembulan telah mengakhiri sonatanya. Aku tak ingin pernah tahu apakah kata-kata ini mampu mengetuk pintu hatimu. Dayaku benar-benar lantak dan danau airmataku sudah mengering. Duka atas kerinduan ini telah mematikan seluruh inderaku dan merantaiku di dermaga kosong untuk terus menantimu melepaskanku dari belenggu ini. Aku yang menunggumu. Dan selamanya mencintaimu.

Does Having Choice Make Us Happy?

Ada penelitian menyatakan bahwa orang sekarang lebih gak bahagia dibanding orang dulu. Kalian percaya?

Tulisan ini sedikit banyak akan bercerita tentang hasil temuan Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice. Kalian bisa liat wikinya disini. Schwartz sendiri dalam bukunya tersebut menulis:

Autonomy and Freedom of choice are critical to our well being, and choice is critical to freedom and autonomy. Nonetheless, though modern Americans have more choice than any group of people ever has before, and thus, presumably, more freedom and autonomy, we don’t seem to be benefiting from it psychologically. —quoted from Ch.5, The Paradox of Choice, 2004

Gampangnya gini. Orang jaman sekarang, kita-kita ini, kan udah punya banyak pilihan dan bahkan punya kemerdekaan untuk memilih, yang dijamin di UUD 1945. Hehe. Contoh gampangnya, kalian pergi ke minimarket terdekat, mau beli shampoo. Begitu sampe dan berhadapan dengan rak shampoo, kalian bingung, mau beli shampoo merek apa, varian apa, yang ukurannya berapa, pake kondisioner atau yang kondisionernya terpisah, dan lain sebagainya. Bahkan gw, yang menganggap diri gw punya loyalitas merek yang tinggi, masih bingung jika dihadapkan pada pilihan macam ini. Gw akan mempertimbangkan antara lain, bagaimana kondisi kondisi rambut gw sekarang, mana yang paling pengen gw beresin dari kondisi rambut gw, mana varian shampoo yang paling cocok dengan masalah rambut gw, dan liat kondisi keuangan. Itu baru shampoo. Belom kalo gw dateng ke hipermarket dengan list belanja rumah tangga yang seabrek. Bisa tiga jam sendiri gw keliling-keliling hipermarket, mikirin semua kondisi dan pilihan yang gw punya.

Nah kenapa dengan segitu berlimpahnya pilihan kita justru makin menderita? Consider this. Bokap nyokap gw dulu kalo nonton TV cuma ada TVRI, pas jaman gw mulailah ada RCTI dan kawan-kawan, bahkan mulai bisa pasang TV kabel. Bokap nyokap gw girang dengan satu stasiun TV, sementara gw dan adek-adek gw harus rebutan nonton kalo misalnya di Jumat malem, gw pengen nonton Face Off di BeTV sementara adek-adek gw pengen nonton Indonesian Idol. Kebanyakan pilihan justru membuat utilitas kalian akan barang merendah. Semakin banyak kalian punya suatu barang, kalian akan mem-value barang itu rendah. Sebaliknya, semakin sedikit barangnya, kalian akan menggapnya semakin mahal. Ini menjelaskan kenapa harga tas Hermes Birkin mahal banget. Ya itu tadi, limited edition, sehingga yang punya pun pasti kalangan tertentu aja.

Trus gimana dengan pemilu sekarang? Kan jumlah partai juga banyak, calon presiden banyak? Nah itu juga salah satu yang bikin gak bahagia. Kalian kan bakal milih salah satu kandidat presiden. Nah begitu dia kepilih, kalian kan committed to him, ‘kan? Mau dia sediktator Suharto atau se-meaningless SBY, tetep aja kalian harus anggap dia presiden kita. Nah komitmen ini juga yang bikin gak bahagia. Kalo kaitannya ama produk, begitu gak memuaskan, kalian bisa buang dan kalian beralih ke produk lain. Tapi begitu ngomong soal presiden, kalian cuma punya dua pilihan: kalian meninggalkan Indonesia atau kalian demo sampe dia turun kayak Suharto.

Hal ketiga yang bikin kita makin gak bahagia karena punya banyak pilihan adalah kesempatan yang hilang. Misalnya kalian mau beli HP di Roxy. Setelah keliling Roxy, kalian nemu satu toko yang jual harga HP paling murah. Kalian beli HP disana. Sambil jalan pulang, taunya kalian menemukan ada satu toko lain, yang nyempil banget dan jual HP kalian dengan harga yang jauh lebih murah dari toko tadi. Kalian pasti nyesel banget kan, kenapa kalian gak beli HP di toko nyempil itu? Nah, kesempatan yang hilang untuk mendapatkan HP yang lebih murah inilah yang bikin kalian lebih gak bahagia. Apalagi kalo sampe di rumah nanti kalian masih kebayang-bayang kenapa kalian beli HP di tempat yang tadi dan bukan di toko yang nyempil itu?

Demikianlah. Punya banyak pilihan gak selalu baik, dan malah lebih banyak buruknya. Banyak pilihan justru bikin kalian bingung mau milih yang mana, dan apakah kalian siap dengan konsekuensi bahwa pilihan kalian ternyata bukanlah pilihan terbaik.

Kutu Loncat: Bad or Not?

Finally. Ngutang 4 tulisan ini. Mudah-mudahan bisa dikebut!! Haha… *deadliner sejati*

Pernah gak kalian merasa bosan ama rutinitas kalian yang sekarang? Beberapa hari penuh gempuran tugas, dari PR, paper, makalah sampai presentasi dan kuis bikin gw akhir-akhir ini agak bosen dengan rutinitas gw sebagai mahasiswa. Belum lagi masalah UTS dan proposal tesis yang harus di-submit di pertengahan April.

Eniwei, daripada curhatan gw yang panjang lebar tentang kuliah gw, sekali lagi gw tanya, apakah kalian pernah merasa bosan ama rutinitas sekarang? Ya dengan jalanan yang makin macet dan harga-harga yang makin tinggi jelang pemilu, wajar sih betapa menyenangkannya pekerjaan kalian, kalian akan tetap merasa bosan. Apalagi ditambah dengan stereotype yang melekat di generasi Y bahwa kita adalah generasi bosenan, gampang beralih dari satu hal ke hal lain dan dicap sebagai “si kutu loncat”.

Gw sendiri, gak menganggap anggapan “kutu loncat” ini sebagai sesuatu yang buruk sepenuhnya. Loyalitas pada perusahaan memang penting, tapi karyawan tentu saja punya hak untuk mengembangkan dirinya sendiri. Jika dia merasa ada tawaran lain di luar perusahaan yang lebih menggiurkan untuknya, ya dia akan pindah. Menggiurkan disini gak melulu bicara tentang gaji ya. Bisa aja tawaran akan etika kerja yang lebih baik, atau tawaran untuk mengembangkan diri karena di perusahaan yang sekarang, karyawan diperlakukan bak katak dalam tempurung. Diperas tenaganya tapi gak dikasi pelatihan yang bisa menambah skill karyawan.

Alasan lain kenapa gw gak sepenuhnya menganggap ide “kutu loncat” ini buruk adalah, bahwa dengan tidak terlalu lama berada dalam satu perusahaan, karyawan bisa lebih kreatif, dan inisiatif. Sebagai contoh, orang yang sering gonta ganti pacar pasti lebih memahami lawan jenis ketimbang yang pacaran dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, ‘kan? Haha. Contoh lain, kenapa auditor eksternal di perusahaan harus dirotasi setiap lima tahun? Karena kalo kelamaan mengaudit perusahaan, si auditor jadi kehilangan sensitivitasnya, dan jadi terlalu akrab dengan manajer, sehingga bisa jadi ia kehilangan independensinya.

Nah, ini alasan utama gw kenapa gw anggap “kutu loncat” gak selamanya buruk. Seringnya seseorang pindah lingkungan, baik kerja maupun rumah, membentuk kepribadian seseorang jadi lebih volatile. Artinya, dia bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan manapun yang dia tempati. Volatilitas ini kadang diperlukan loh, dalam kerja yang sebagian besar berfokus pada teamwork. Soalnya, kalo kalian gak bisa kompak dan membaur dengan anggota tim yang lain, proyek yang kalian kerjakan dijamin gak bakal sukses.

Kerja di tempat yang sama bertahun-tahun juga gw anggep demikian. Misalnya, kerja jadi PNS selama bertahun-tahun membentuk mindset dan kebiasaan bahwa PNS itu santai, egois, kalo bukan kerjaan gw ya ngapain gw repot-repot, semua duit anggaran harus dicari celah biar bisa ditilep dan lain sebagainya. Begitu si PNS ini dapet bos baru yang cekatan, suka sidak sembarangan, segala sesuatu harus cepet, semua kelabakan. Dan ujung-ujungnya, membenci si bos baru. Padahal, dia sendiri yang udah lembam, susah bergerak karena berada dalam zona nyaman.

Seperti yang dibilang orang, berada dalam zona nyaman justru mematikan. Hidup berada di luar zona nyaman Anda, begitu katanya. Maka, ketika bicara mengenai si “kutu loncat”, kalian sekarang bisa bilang kalo si “kutu loncat” ini menikmati hidup, karena selalu keluar dari zona nyamannya. Hehe.

Jadi, demikian. Jangan selalu menganggap menjadi “kutu loncat” itu buruk. Salah satu dosen gw pernah cerita, membandingkan dirinya dengan salah seorang temannya. Dosen gw itu adalah orang yang lama bertahan di suatu perusahaan, sampe jadi CEO segala, sementara temannya, adalah seorang “kutu loncat”. Pak dosen bilang bahwa disaat gajinya dia udah gede banget, si temen hidupnya gitu-gitu aja dan pak dosen pun menyatakan itu akibat kesalahannya sendiri menjadi “kutu loncat”. Buat gw, pernyataan ini gak bisa dibenarkan seluruhnya. Sekali lagi, jadi “kutu loncat” gak selalu buruk karena justru memicu kreativitas seseorang. Pak dosen mungkin lupa, kalo kebahagiaan seseorang gak cuma dipicu dari gaji doang, tapi juga tentang pengembangan diri dan kenyamanan. Ya mungkin aja pak dosen bergaji gede tapi lembur melulu dan pusing mikirin stratejik perusahaan tiap hari, tapi si temen bisa santai, pulang ke rumah ontime dan punya quality time sama keluarganya. Well, money cannot buy everything, ‘kan?

Artikel ini cuma pendapat gw doang. Gw gak menyalahkan kalian yang “kutu loncat”, tapi juga meminta kalian untuk mempertimbangkan matang alasan dibalik kepindahan kalian.

Ato mungkin ini cuma alasan gw aja untuk pindah kerja. Haha.

Surprise, Surprise!!

Banyak teman bertanya pada gw, kenapa gw milih kerjaan yang sekarang. Gw kemudian jawab dengan jawaban tipikal, buat ngasi keluarga gw makan. I‘m oldest of three, my second brother is still on college and even the youngest is still on elementary. But that‘s not all. Biasanya, gw kemudian akan lanjut cerita betapa sebelnya gw ama kerjaan gw yang sekarang dan betapa pengen gw ninggalin kerjaan ini kalo gw gak inget posisi gw tadi.

Tapi kemudian takdir berkata lain. Kantor gw ngasi gw “napas baru”, dengan mengirim gw ke sebuah program beasiswa sehingg gw bisa bebas gak ngantor selama satu setengah tahun. Envy me? I‘m telling you again then that my scholarship n living allowance they gave me during this program, is more than the amount of my monthly salary. Haha.

Ada lagi kasus temen gw. Dia deket sama seorang cowo. Cowo itu bak a guy in her dreams, memenuhi semua kriteria cowo idamannya. Mereka udah deket banget, sampe suatu ketika, si cowo tiba-tiba dateng ke temen gw dan menyerahkan undangan nikah.

Hidup selalu penuh kejutan. Kadang kita pengen berjalan ke A, tapi hidup membelokkan kita ke B. Tadinya mau belanja sepatu di Pasar Baru, tapi kejebak macet di Senen, akhirnya mampir ke Atrium dan gak sengaja ketemu cowo ganteng disana. Life is always full of surprises.

Kejutan demi kejutan yang diberikan hidup gak selalu menyenangkan. Kalo kasusnya kayak yang diatas, ketemu cowo ganteng trus kenalan dan minta nomor ponselnya sih jelas happy, tapi kadang life throws us lemons, yang manis kagak, kecut iya. Ketimbang ketemu cowo ganteng dan minta nomor ponselnya, kita malah ketemu sama om-om horny yang lagi nyari cabe-cabean di jam istirahat kantor. Kejutannya sama sekali gak menyenangkan, malah bikin kita sedih, bete, atau galau.

Kejutan yang gak menyenangkan itu emang gak ngenakin. Tapi yang lebih penting adalah gimana cara kita menyikapinya. Kalo ketemu om-om horny kayak gitu aja udah takut, gimana mau ngadepin bos centil yang suka umbar kata-kata porno? Lagi-lagi, semua adalah tentang gimana kita menyikapinya. Apakah mau sekalian dibecandain, ato mu diomelin sekalian? Gw sih memilihnya berdasarkan tingkat keparahan tindakan. Kalo emang parah, dihajar juga oke.

Ada banyak anekdot yang bilang if life throws lemons on you, create a lemon gun and rob the bank with it. Haha. Ada lagi yang bilang life is not about coping with storms; it is about dancing in the rain. Semua kejutan harus disikapi, tapi bagaimana cara menyikapinya, dikembalikan lagi pada kita semua. Kita semua jelas punya cara tersendiri dalam menyikapi kejutan tersebut. Cara gw tentu beda dengan cara kalian, tentunya, karena tolok ukurnya juga pasti beda.

Oke. The last but of course not the least, camkan quote ini:

Pain is inevitable. Suffering is optional. Haruki Murakami

Aim, Set and Go!!

Ini harusnya jadi postingan kemaren. Karena terkendala sinyal makanya baru kepost hari ini.

Oke. Ada yang merasa tergolong kaum angker disini? Angker yang gw maksud tentu adalah kependekan dari Anak Gaul Kereta, atau mereka yang biasa pulang pergi, entah ke kantor atau ke kampus, naik kereta. Yang merasa golongan angker pasti udah akrab ya sama yang namanya berjejalan di dalam KRL.

Alkisah hari sabtu kemarin gw ngerandom bareng salah satu pacar perempuan gw, Windy. Awalnya gw gak sengaja ngirim BBM ke dia, bilang kalo gw lagi berada di tukang jahit langganan kami yang emang berposisi di dekat rumahnya di kawasan Depok. Gw awalnya cuma nanya apa dia lagi ada di rumah, karena kalo ada, gw mau mampir gitu. Taunya dia bilang dia lagi di dokter gigi, dan kebetulan posisi dokter giginya deket sama posisi penjahit gw. Klop. Kita ketemuan.

Awalnya, dia niat ngajakin gw nonton pake tiket gratisannya, tapi karena film di bioskop yang kita incar lagi gak ada yang bagus, akhirnya kita cari alternatif lain. Dasar random, maka kita pun memutuskan ke kota tua karena katanya lagi ada festival fatahillah dalam rangka revitalisasi kota tua. Well, berangkatlah kami berdua. Naik kereta.

Singkat cerita, dalam perjalanan naik kereta itu, ada satu waktu dimana kami berdua harus cepet2an berlomba ama penumpang lain buat dapetin tempat duduk. Dan si Windy sukses dapetin tempat duduk buat kami berdua. Dia bilang, kunci dapetin tenpat duduk di kereta hanya satu: FOKUS.

Ini yang kemudian mencuri perhatian gw (tsaahh bahasa gw kan…) Fokus. Fokus sebenarnya gak cuma dibutuhin dalam hal rebutan tempat duduk di kereta, atau transjakarta, atau di public transport lain. Fokus, harus dilakukan di setiap tempat, dimanapun berada, dan apapun yang sedang atau akan dilakukan. Mulai hal kecil kayak berjalan aja kita harus fokus, apalagi dalam hal besar macam mengurus negara.

Fokus juga harus dilakukan dalam bermimpi. Pernah denger anekdot tentang seseorang yang berdoa pengen dapet duit meski cuma kipas-kipas aja dan gak lama kemudian dia jadi tukang sate? Anekdot ini sebenernya kasi pelajaran berharga buat kita, bahwa kita harus fokus ama apa yang kita inginkan.

Banyak buku motivasi yang bilang bahwa tujuan harus sespesifik mungkin. Bikinlah mimpi sedetil mungkin, sefokus yang kita bisa. Misalnya kalian pengen punya rumah, bayangin rumah kayak apa yang kalian inginkan. Tipe berapa, fasadnya kayak apa, dibangun dengan material apa, bentuk jendela dan pintunya kayak apa, dicat warna apa, berapa lantai, berapa kamar, furniturnya gimana dan sebagainya. Mimpi yang detil membantu kita fokus untuk mewujudkannya. Dengan bikin mimpi yang detil, rencana yang dibuat juga akan detil dan kita akan termotivasi untuk mewujudkannya.

Fokus membantu kita untuk tau apa yang kita inginkan dan seberapa mampu kita untuk mewujudkannya. Fokus pada satu hal penting dan mengabaikan hal yang gak penting juga membantu kita untuk belajar mengenali lingkungan sekitar, apa yang dapat membantu kita mewujudkan mimpi atau dapat menghalangi kita meraih mimpi.

Intinya hanya kita harus fokus.

Success: Still Wanna Test Your Luck?

Posting kelima. Let‘s start.

Pernah gak kalian gagal dapetin sesuatu yang kalian inginkan trus kalian bilang, “Duh, gw gak hoki nih.” Ato kalian bilang, “Dewi Fortuna gak ada di pihak gw nih.” Sekali dua kali, kita semua pasti pernah menyalahkan luck atas apa yang gagal kita dapatkan.

Keberuntungan, atau luck, adalah sesuatu yang sangat didambakan ama semua orang, sampe2 kita iri sama Gladstone alias Untung, sepupunya Donald Duck yang selalu dinaungi awan keberuntungan. Lucky yang dimaksud bermacam rupa, dari lucky punya istri cantik atau suami ganteng padahal muka pas2an, lucky punya karir bagus, sampe lucky I‘m in love with my bestfriend (hyahh…). Saking besarnya pengaruh luck dalam kehidupan kita sehingga hampir setiap sukses pasti dikaitkan ama faktor luck.

Saking besarnya keinginan orang untuk dapetin apa yang diinginkan, atau memperbesar luck sehingga bisa mempermulus jalan ke kesuksesan, berbagai atribut yang berkaitan ama luck jadi laris manis bak kacang goreng di musim hujan (loh? Ya kan gw yang nulis, jadi suka-suka gw dong mo pake analogi apa, haha). Dari semanggi berdaun empat, sampe kaki kelinci, lazim jadi buruan orang karena dianggap bisa mendatangkan keberuntungan.

Gw sendiri gak terlalu percaya keberuntungan adalah faktor besar dalam kesuksesan. Betul, bahwa keberuntungan punya porsi sendiri dalam kesuksesan, tapi not a sole factor, or so damn very influential. Buat gw, ada tiga faktor yang ngaruh kepada kesuksesan seseorang:

1. Opportunity. Opportunity ini yang paling penting. Opportunity, adalah hal paling langka dalam hidup, karena kadang cuma datang satu kali dan gak akan berulang. Sumber terbesar frustrasi seseorang adalah karena dia gagal mengambil dan memanfaatkan opportunity yang dateng pada dirinya, karena sekali kalian gagal ambil dan manfaatin opportunity itu, kalian mungkin makin jauh dari kesuksesan yang seharusnya bisa kalian raih.

2. Ability. Selain opportunity, hal yang paling penting dari kesuksesan adalah ability. Ability dan opportunity berjalan beriringan, gak bisa sendiri-sendiri. Kalian gak bisa mengambil dan memanfaatkan opportunity dengan maksimal kalo kalian gak punya ability yang memadai. Vice versa, kalo kalian punya ability dan gak dapet opportunity, ya sama aja, tetep aja faktor pendukung kesuksesan kalian gak akan maksimal.

3. Luck. Nah akhirnya masuk ke pembahasan utama. Luck jadi faktor terakhir buat gw. Kenapa? Karena luck sesungguhnya gak akan ada kalo kalian gak punya dua faktor diatas. Pernah denger quote bahwa dalam kesuksesan, 1% luck 99% hardwork? Jadi harus kerja keras dulu, baru luck itu akan datang dengan sendirinya.

Dengan tiga faktor diatas, gw totally gak percaya ama ramalan-ramalan yang bilang bahwa lo akan luck kalo kerja di bidang A, B, C dan sebagainya. Ya kalo kalian kerja keras di suatu bidang, dan kalian ahli di bidang itu serta pandai seizing opportunity, gw yakin betul kalo keberuntungan akan datang. Contoh nyata adalah seorang eks jenderal n eks pangab era orde baru yang sekarang mau nyalon presiden. Menurut kabar yang gw terima, waktu reformasi dulu, Presiden Suharto sempet mau keluarin semacam Supersemar ke si jenderal eks pangab ini. Bapak jenderal nolak, padahal kan kalo dia terima, dia bisa jadi presiden tuh. Nah ini contoh orang yang punya ability, tapi not seizing opportunity, jadi dia gak dinaungi luck. Lalu kalopun dia mau maju sekarang, gw rasa udah telat banget.

Jadi demikian. Untuk bisa sukses, make sure kalian punya ability yang dibutuhkan untuk sukses di bidang yang ingin kalian geluti. Trus, kalo kalian yakin kalian mampu, grab the opportunity. Kalo katanya Kelly Clarkson di lagu Breakaway, you gotta take a risk, take the chance, make a change. Jangan ragu ambil risiko, jangan ragu menantang diri kalian sendiri, karena kesempatan gak datang dua kali. You gotta make the choice, it‘s now or never! Jika kalian bisa memanfaatkan opportunity itu dengan ability yang kalian miliki, trust me, luck will come over you.

So, still wanna try your luck?

Perfect Villain

Akhir-akhir ini gw suka nonton. Tepatnya SANGAT SUKA. Hampir tiap kali ada premiere di bioskop, gw selalu nonton di hari yang sama.

Genre film favorit gw sih gak ada, tapi gw gak suka nonton drama. Alasannya klasik. Gw bisa dengan sukses ngorok di bioskop kalo nonton drama. Beberapa pacar terakhir gw suka protes kalo ngajak gw nonton drama, soalnya selalu berakhir dengan dia harus bangunin gw yang bobok asoy di dalem bioskop.

Apapun genre yang gw tonton, yang selalu jadi perhatian gw adalah tokoh antagonisnya. Selain karena yang meranin antagonis kalo gak cakep (e.g Benedict Cumberbatch di Star Trek dan di The Hobbit, Tom Hiddlestone di Thor dan di The Avengers, Charlize Theron di Snow White and the Huntsman, mendiang Heath Ledger di The Dark Knight) ya kharismatik (who can forget Anthony Hopkins at The Silence of The Lambs, or Ralph Fiennes being Lord Voldemort?) Gw selalu suka liat para pemeran antagonis itu, somehow, kadang lebih anggun, elegan, cerdas, berkarakter daripada si protagonis pemeran utama. Kadang gw juga berharap si antagonis yang menang, protagonisnya mati aja (seriously, this is the ending I expected from Harry Potter, Snow White and the Huntsman). Bahkan, kalo yang main antagonis gak cakep ato kharismatik, gw pasti langsung gak suka filmnya, haha…

Saking gw sukanya sama peran-peran antagonis itu, gw sampe mikir apa sih yang perlu dimiliki sama mereka sehingga bisa dikategorikan jadi “Perfect Villain”, dan ini sejalan sama apa yang ditulis Jennifer Maldonado di sini:

  1. Latar Belakang solid. A Perfect Villain buat gw harus punya alasan kenapa dia berubah jadi jahat, kenapa dia gak suka liat orang lain seneng, apa yang bikin dia merasionalisasikan kejahatannya. Semakin kompleks alasannya, semakin kompleks karakter dan latar belakangnya, makin sempurnalah si tokoh jahat itu.
  2. Punya soft-side. Ini penting. Soalnya, si villain kan tetep manusia, sejahat apapun dia, dia pasti punya sisi lemah, sisi yang bikin dia kembali jadi manusia biasa yang punya hati. Contohnya, sesakti apapun Lord Voldemort, dia tetep cinta ama si ular Nagini.
  3. Punya Power, dan karakter yang bikin dia berkuasa atas sesuatu. Ya gampangnya, kalian lebih yakin sama villain yang mana, tokoh mafia kuat kayak Don Michael Corleone atau bocah sembilan belas tahun yang keliatan nerd untuk bisa bunuh orang? (kecuali nama dua bocah itu Hafidt dan Asyifa sih, haha…) A Perfect Villain harus punya kekuatan dan kekuasaan, serta bisa menggerakkan pengikutnya untuk tujuan yang dia inginkan. Makanya, ada sidekick di sisi tiap villain, ‘kan? Tujuannya ya bikin si villain keliatan berkuasa, kalo katanya Maldonado, having a larger-than-life personality. Kalopun dia gak punya pengikut, minimal dia bisa mengintimidasi si protagonis, kayak Hannibal Lecter.
  4. Identikkan si villain sebagai pembawa kabar buruk. Pokoknya, kehadiran si villain harus jadi ibarat mimpi buruk bagi si protagonis. Trus si villain juga harus cerdas n pinter baca situasi ya, sehingga dia tahu apa yang orang lain gak tahu, dan kapan harus membongkar semuanya. Semuanya pasti pada tahu kan scene dimana Darth Vader membongkar rahasia kalo Luke Skywalker itu anaknya? Legend banget tuh!
  5. Hal lain: misterius, cakep and/or kharismatik, dark humor, great emotional. Bisalah bikin penonton bilang, “Anjrit ini orang, cakep-cakep jahat.” Ini sih ngaruh ke likability-nya si villain ya, selain punya soft-side tadi. Kalo yang main jadi jahatnya jelek, filmnya gak laku kali ya? Hehe…

Satu hal yang bisa disimpulkan disini adalah bahwa A Perfect Villain adalah orang yang dibenci, tapi juga harus likeable. Dia harus bisa bikin penonton benci ama dia, tapi teringat-ingat ama karakternya. Ya kayak kita sebel (plus takut) ama Hannibal Lecter, tapi gak bisa melupakan sosoknya yang cerdas, manipulatif, sekaligus kejam.

Villain, sekali lagi, adalah karakter penting yang membangun keseluruhan plot sebuah novel atau film. Perfect disini bisa jadi pendapat subjektif gw doang, karena banyak villains favorit gw yang punya karakter seperti apa yang gw sebutin diatas. Kalian-kalian juga pasti punya kriteria tersendiri mengenai apa yang bikin seorang villain perfect buat kalian. Sila kalau mau sharing.

Sampai jumpa besok. Semoga sinyal mendukung… *mau pulang kampung*

Consumer Loyalty, not Consumer, is King

Ngutang satu posting dari kemarin. Terlalu disibukkan dengan kuis Manajemen Keuangan sampe gak sempet nulis. Dan hari ini semoga bisa nulis dua kali.

Gw akan coba mulai postingan hari ini dengan sebuah quote dari Om Steve Jobs.

“People don’t know what they want until you show it to them”

Ada yang keberatan gak dengan quote diatas? Kalo ada yang keberatan, sana tanya ama nisannya Om Steve. Hehe.

Gw setuju dengan quote ini. Analoginya sederhana. Gak usahlah kalian ribut sama teknologi dan gadget dan apalah yang akhir-akhir ini booming banget. Gw akan coba analogi paling sederhana. Benda paling sederhana yang jadi kebutuhan primer manusia.

Air.

Iya, air. Air yang biasa kalian minum itu loh, air mineral dalam kemasan (AMDK).

Siapa yang pernah menyangka kalo manusia kayak kita-kita ini bakal butuh AMDK? Dulu, waktu perusahaan AMDK paling ngetop saat ini di Indonesia (yang kalo kalian ke warung dan beli AMDK pasti nyebutnya merek produk ini) mengungkapkan ide tentang air minum yang dikemas, semua orang ketawa. Yaelah, dulu pada mikirnya, siapa yang butuh air mineral yang dikemas, trus disuruh beli pula? Kan udah ada air ledeng, bisa dimasak dan diminum. Tapi kenyataan berkata lain. Si produk AMDK ini sukses, dan semua orang kini beli produknya, mengasosiasikan produk AMDK dengan nama merek mereka. Bahkan sekarang, perusahaan AMDK ini dibeli sama perusahaan makanan asal Perancis yang gak kalah ngetop.

Cerita sukses perusahaan AMDK itu membuktikan quote Om Steve diatas, bahwa orang-orang kayak kita, gak akan pernah tau apa yang kita inginkan. Coba aja, dulu siapa yang butuh ponsel? Ponsel generasi awal yang gw liat di tahun 1990-an (yah ketauan deh gw tua), bentuknya ngalahin cobek mama kita di dapur. Gede, cuma bisa buat nelpon. Teknologi kemudian berkembang sangat pesat (kalo gak mau dibilang amit-amit pesatnya), hingga sekarang kita kenal ponsel yang kecil, mungil, ringan, tapi bisa segala macem, dari sekedar telepon, kirim email, chatting, video call, berkamera canggih, jadi organizer dan sebagainya.Dulu, harus bawa agenda, kamera, laptop, modem dan lain-lain. Tapi sekarang, cukup bawa ponsel aja. Belakangan ini, gw bahkan udah gak pernah bawa kamera saat travelling. Cukup bawa ponsel, tinggal klik, trus bisa langsung share ke semua sosial media yang ada. Mudah, murah, canggih dan efisien. Beberapa dosen gw bahkan menyebutkan perkembangan teknologi ponsel ini mematikan beberapa industri lain yang tergerus dengan kecanggihan si ponsel.

Kesimpulan yang bisa gw ambil disini adalah, bahwa konsumen tidak selalu menjadi raja. Betul, konsumen adalah pemangku kepentingan (bahasa kerennya stakeholder) terpenting dalam suatu bisnis karena dari konsumen-lah pendapatan utama bisnis tersebut diraih. Namun, tak semua keinginan konsumen harus dipenuhi. Riset mengenai apa yang diinginkan konsumen justru lebih mahal ketimbang riset mengenai kepuasan konsumen terhadap produk kita. Disinilah kreativitas produsen sangat diperlukan. Produsen harus menciptakan sesuatu yang tak pernah disangka-sangka oleh konsumennya, dan dapat membuat konsumen tertarik untuk membeli produk.

Tapi, jangan coba-coba untuk berinovasi terlalu jauh kalo kalian baru aja mulai bisnis. Inovasi emang dibutuhin, tapi yang terlalu jauh is a big no-no. Beberapa perusahaan mungkin sukses menciptakan produk yang inovatif, tapi yang paling penting adalah menciptakan produk yang terikat secara emosional dengan konsumennya. Menurut gw, konsumen yang loyal bakal beli apapun yang kalian luncurkan, meski cuman modifikasi dari produk sebelumnya.

Oke. Ini pendapat gw. Gw bukan ahli marketing, sih, jadi ini pastinya dangkal sekali… hehe…